BISNIS DAILY, PONTIANAK – Tas dari Hermès kini tak lagi sekadar pelengkap gaya, tapi juga dilirik sebagai instrumen investasi. Harganya yang terus naik membuat banyak kolektor melihat tas mewah ini sebagai aset jangka panjang.
Fashion stylist dan pengamat mode, Caroline Issa, menyebut fenomena ini bukan hal baru di dunia fashion kelas atas.
“Beberapa tas Hermès, terutama model ikonik, justru mengalami kenaikan nilai dari waktu ke waktu. Ini yang membuatnya dianggap sebagai investasi,” ujarnya.
Model seperti Birkin dan Kelly menjadi contoh paling jelas. Kedua seri ini dikenal memiliki permintaan tinggi, sementara jumlah produksinya sangat terbatas.
Kondisi tersebut menciptakan kelangkaan di pasar. Akibatnya, harga jual kembali (resale) sering kali lebih tinggi dibanding harga beli awal, terutama untuk seri langka atau edisi tertentu.
Selain faktor kelangkaan, kualitas juga berperan besar. Tas Hermès dibuat dengan material premium dan pengerjaan tangan yang detail, sehingga mampu bertahan dalam kondisi baik selama bertahun-tahun. Hal ini membuat nilainya tidak mudah turun seperti barang fashion pada umumnya.
Namun demikian, tidak semua tas otomatis menjadi investasi menguntungkan. Warna, ukuran, kondisi, hingga kelengkapan seperti box dan sertifikat sangat mempengaruhi harga jual kembali.
“Investasi di tas tetap perlu pengetahuan. Tidak semua model akan naik, tapi yang ikonik dan langka punya potensi besar,” tambah Caroline.
Fenomena ini menjadikan Hermès berada di posisi unik, di mana produk fashion bisa berfungsi layaknya aset. Di tengah tren investasi alternatif, tas mewah kini mulai sejajar dengan emas, properti, bahkan karya seni.
Dengan tren yang terus berkembang, tas Hermès tak hanya dipandang sebagai simbol status, tetapi juga sebagai pilihan investasi bagi mereka yang memahami pasar dan nilainya. (*)