Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

“Marketing S3” Ala Aldi’s Burger: Sederhana, Santai, tapi Susah Ditiru

20 April 2026

BISNIS DAILY, PONTIANAK – Di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner, muncul istilah baru yang lagi ramai dibahas netizen: “marketing S3”. Julukan ini ramai disematkan ke Aldi’s Burger yang sukses viral dengan strategi yang terlihat simpel, tapi efeknya luar biasa.

Sekilas, cara promosi Aldi’s Burger memang terlihat biasa saja. Video sederhana, tanpa produksi mahal, bahkan cenderung santai. Tapi di balik itu, ada pola yang kuat dan konsisten.

Salah satu kunci utamanya ada di jingle khas. Bukan sekadar musik latar, tapi identitas brand. Sekali dengar, langsung nempel di kepala. Bahkan banyak pengguna TikTok ikut menggunakan ulang suara tersebut, membuat efek viral makin luas tanpa biaya tambahan.

Selain itu, Aldi’s Burger juga piawai memainkan konten repetitif. Alih-alih bosan, justru pengulangan ini memperkuat ingatan audiens. Produk yang sama, gaya yang mirip, tapi terus muncul di beranda—hingga akhirnya orang merasa “harus coba”.

Strategi lainnya adalah penggunaan nama menu yang simpel tapi kuat, seperti “Brother” dan “Big Brother”. Nama ini terasa dekat, mudah diingat, dan punya karakter yang khas.

Yang tak kalah penting, mereka selalu menonjolkan harga secara terbuka. Di tengah kondisi ekonomi yang sensitif, transparansi harga jadi daya tarik utama, terutama bagi kalangan anak muda.

Menariknya lagi, Aldi’s Burger tidak menjual mimpi berlebihan. Tidak ada klaim bombastis. Justru mereka tampil apa adanya: murah, kenyang, dan enak. Pendekatan ini membuat brand terasa lebih jujur dan mudah dipercaya.

Efeknya? Muncul fenomena FOMO (fear of missing out). Banyak orang datang bukan hanya untuk makan, tapi juga karena takut ketinggalan tren yang sedang ramai.

Fenomena ini membuktikan bahwa di era digital, kreativitas dan konsistensi bisa lebih kuat daripada modal besar. Marketing tak lagi soal seberapa mahal produksi, tapi seberapa kuat pesan yang tertanam di benak audiens.

Tak heran jika banyak yang menyebut strategi ini sebagai “marketing S3”—bukan karena rumit, tapi karena eksekusinya yang matang dan sulit ditiru begitu saja. (*)

 
Prev Article
Aneka Dropship, Bisnis Tanpa Stok yang Lagi Digandrungi
Next Article
The Rise of AI-Powered Personal Assistants: How They Manage

Related to this topic: