BISNIS DAILY, PONTIANAK - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Memasuki awal Juni 2026, kurs dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah dibuka melemah ke level sekitar Rp17.878 per dolar AS atau turun 39 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut di tengah dinamika ekonomi global.
Sejumlah data pasar bahkan mencatat pergerakan dolar AS berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.916 per dolar AS pada perdagangan pagi. Angka tersebut menjadi salah satu level tertinggi rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Penguatan dolar AS dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari sentimen ekonomi Amerika Serikat, ketidakpastian pasar global, hingga meningkatnya tensi geopolitik yang mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman.
Meski demikian, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami tekanan serupa akibat kuatnya posisi dolar AS di pasar internasional.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi. Salah satunya dengan memperketat pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung guna menjaga keseimbangan pasar valas dan memperkuat rupiah.
Bagi masyarakat, kondisi ini berdampak pada kenaikan biaya perjalanan luar negeri, harga barang impor, hingga biaya pendidikan yang menggunakan mata uang asing. Sebaliknya, sektor ekspor berpotensi mendapat keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global.
Pelaku usaha dan masyarakat pun kini menanti apakah rupiah mampu bertahan di kisaran Rp17.800-an atau justru menembus level Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat. (*)