BISNIS DAILY, PONTIANAK – Persaingan bisnis e-commerce di Indonesia semakin sengit. Di balik dominasi platform seperti Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia, ternyata ada banyak marketplace yang tak mampu bertahan hingga akhirnya menutup layanan atau mengubah model bisnisnya.
Sejak era belanja online mulai berkembang pada awal 2000-an, Indonesia telah memiliki puluhan platform e-commerce. Namun, seiring ketatnya persaingan, perang diskon, hingga tingginya biaya operasional, hanya segelintir pemain yang mampu bertahan.
Saat ini, pasar e-commerce nasional didominasi oleh lima pemain utama, yakni Shopee, TikTok Shop, Tokopedia, Lazada, dan Blibli. Sementara Bukalapak, yang pernah menjadi salah satu unicorn kebanggaan Indonesia, memilih menghentikan penjualan produk fisik dan bertransformasi menjadi platform layanan produk virtual seperti pulsa, token listrik, voucher digital, dan pembayaran tagihan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi bisnis menghadapi kompetisi yang semakin ketat.
Daftar E-Commerce Terbesar di Indonesia
Hingga 2026, platform yang masih menjadi pilihan utama masyarakat antara lain:
- Shopee
- TikTok Shop
- Tokopedia
- Lazada
- Blibli
- Bukalapak (fokus produk virtual)
Selain itu masih ada sejumlah pemain khusus seperti Zalora, Bhinneka, Ralali, Orami, Sociolla, JakartaNotebook, Ruparupa, Klik Indomaret, dan Gramedia.com yang tetap melayani segmen pasar tertentu.
Deretan Marketplace yang Gugur
Persaingan yang semakin keras membuat banyak pemain harus angkat kaki dari Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan sempat menjadi nama besar.
Berikut daftar marketplace yang sudah tutup atau menghentikan operasionalnya:
- JD.ID
- Elevenia
- Blanja.com
- MatahariMall
- Rakuten Indonesia
- Cipika
- Sorabel (Sale Stock)
- Qoo10 Indonesia
- VIP Plaza
- Bobobobo
- Berrybenka Marketplace (kembali fokus ke bisnis fashion sendiri)
Sebagian besar platform tersebut kesulitan bersaing menghadapi dominasi marketplace besar yang agresif memberikan promo, gratis ongkir, serta membangun ekosistem pembayaran dan logistik yang terintegrasi.
Mengapa Banyak E-Commerce Berguguran?
Ada beberapa faktor yang membuat banyak marketplace akhirnya menyerah, di antaranya:
- Persaingan promo dan diskon yang menguras modal (burning money).
- Biaya logistik dan operasional yang terus meningkat.
- Sulit memperoleh pendanaan baru dari investor.
- Perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih platform dengan layanan lengkap, mulai dari live shopping, dompet digital, hingga pengiriman yang lebih cepat.
- Dominasi segelintir pemain besar yang menguasai sebagian besar transaksi belanja online.
Meski demikian, industri e-commerce Indonesia masih menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Nilai transaksi terus tumbuh setiap tahun dan diperkirakan masih akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Persaingan pun diprediksi semakin ketat, sehingga hanya perusahaan yang mampu berinovasi dan beradaptasi dengan kebutuhan konsumen yang akan bertahan. (*)