Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Naikkan Suku Bunga Darurat untuk Redam Tekanan

10 June 2026

BISNIS DAILY, PONTIANAK – Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah baru setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, mata uang Garuda sempat menyentuh posisi terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.190 per dolar AS sebelum akhirnya mengalami sedikit penguatan setelah intervensi dan kebijakan darurat dari Bank Indonesia (BI).

Pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran pelaku pasar, dunia usaha, hingga masyarakat. Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, serta arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia.

Sebagai respons, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dalam rapat di luar jadwal reguler. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan nasional.

Gubernur BI juga melakukan komunikasi intensif dengan investor dari Asia, Eropa, dan Amerika Serikat untuk menjelaskan langkah-langkah yang diambil pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Setelah pengumuman kenaikan suku bunga tersebut, rupiah sempat menguat kembali ke sekitar level Rp18.000 per dolar AS.

Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah bukan hanya dipicu faktor eksternal. Sentimen domestik seperti kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal, menurunnya kepemilikan asing pada surat utang negara, serta melemahnya pasar saham turut memperbesar tekanan terhadap mata uang nasional. Sepanjang 2026, rupiah telah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Dampak pelemahan rupiah mulai dirasakan berbagai sektor. Dunia usaha menghadapi kenaikan biaya impor bahan baku, sementara masyarakat berpotensi merasakan tekanan harga pada sejumlah barang yang bergantung pada komponen impor. Selain itu, pelemahan kurs juga berisiko meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta.

Meski demikian, pemerintah berupaya menenangkan pasar. Kementerian Keuangan menyatakan kondisi fiskal masih terkendali dan berbagai skenario telah disiapkan untuk menghadapi gejolak nilai tukar yang terjadi saat ini.

Pengamat ekonomi menilai arah pergerakan rupiah dalam beberapa bulan ke depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik global, kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta efektivitas langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia dan pemerintah. Jika tekanan global terus berlanjut, rupiah masih berpotensi menghadapi volatilitas tinggi hingga akhir tahun. (*)

Prev Article
Pembelian KF-21, Push the Limits ‘Swa Bhuana Paksa’
Next Article
The Rise of AI-Powered Personal Assistants: How They Manage

Related to this topic: