Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Harga BBM Nonsubsidi Beri Andil Pada Inflasi Mei 2026

02 June 2026

Bisnis Daily, JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mendorong inflasi transportasi pada Mei 2026 sebesar 0,61 persen secara bulanan (month to month) dengan andil inflasi sebesar 0,07 persen.

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, saat merilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Pudji mengatakan, inflasi ini disumbang oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, serta solar dengan masing-masing andil inflasi sebesar 0,02 persen; 0,02 persen; 0,01 persen; dan 0,01 persen.

Diketahui, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga LPG nonsubsidi sekitar 19 persen per 18 April 2026.

Penyesuaian harga tersebut dilakukan seiring pergerakan harga di pasar internasional, yang berdampak pada level harga konsumen hingga Mei 2026.

Sementara harga bahan bakar untuk pesawat atau avtur di Indonesia meningkat pada periode Mei 2026 dibandingkan dengan April 2026.

Harga avtur meningkat di setiap bandara yang beroperasi dalam negeri.

Terkait harga komoditas di pasar internasional, Pudji menjelaskan, harga minyak sawit mengalami penurunan dibandingkan dengan April 2026.

Sebelumnya, harga minyak sawit terus mengalami kenaikan sejak Januari hingga April 2026.

Di sisi lain, harga minyak mentah mengalami koreksi pada Mei 2026 setelah mencatat kenaikan berturut-turut sejak Januari hingga April 2026.

Adapun Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari sebesar 111,09 pada April 2026 menjadi sebesar 111,40 pada Mei 2026, sehingga inflasi bulanan (month to month/mtm) tercatat sebesar 0,28 persen.

Selain transportasi, kelompok pengeluaran yang terutama mendorong inflasi secara bulanan adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan tingkat inflasi sebesar 0,39 persen dan andil sebesar 0,12 persen.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat dan beras.

Sedangkan beberapa komoditas dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil peredam inflasi yaitu daging ayam ras, telur ayam ras dan bawang putih.

Berdasarkan komponennya, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dan memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,14 persen. Sementara komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,52 persen dan komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,22 persen.

Secara tahunan (year on year/yoy), IHK mengalami kenaikan dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,40 pada Mei 2026 sehingga inflasi tahunan sebesar 3,08 persen.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,94 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 1,43 persen.

Jika berberdasarkan komponennya, komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,59 persen dan memberikan andil inflasi terbesar dengan andil inflasi sebesar 1,66 persen.

Sementara komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 2,07 persen dengan andil inflasi sebesar 0,40 persen, serta komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan sebesar 6,24 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 1,02 persen.

Prev Article
Jelang Piala Dunia 2026, 10 Mega Bintang Tajir Melintir Siap Berlaga
Next Article
The Rise of AI-Powered Personal Assistants: How They Manage

Related to this topic: