BISNIS DAILY, PONTIANAK - Bisnis warung tegal atau warteg dikenal sebagai usaha “rakyat” yang tak pernah sepi peminat. Namun di balik harganya yang murah, muncul pertanyaan: apakah bisnis warteg benar-benar menguntungkan?
Secara umum, warteg memang bisa menghasilkan keuntungan, tetapi dengan satu syarat utama: mengandalkan volume penjualan tinggi. Margin per porsi biasanya kecil, berkisar antara Rp1.500 hingga Rp3.000. Artinya, keuntungan tidak datang dari satu-dua pembeli, melainkan dari banyaknya pelanggan setiap hari.
Sebagai gambaran, jika satu porsi menghasilkan keuntungan Rp2.000 dan dalam sehari terjual 100 porsi, maka pendapatan kotor keuntungan mencapai Rp200.000 per hari atau sekitar Rp6 juta per bulan. Namun angka tersebut belum termasuk biaya operasional seperti gaji karyawan, bahan baku, sewa tempat, hingga listrik.
Di sinilah tantangan utama bisnis warteg. Jika pemilik menggaji tiga karyawan dengan total Rp10–12 juta per bulan, maka penjualan 100 porsi per hari jelas belum cukup. Artinya, pelaku usaha harus meningkatkan penjualan hingga 150–200 porsi per hari, atau menambah menu dengan margin lebih tinggi seperti lauk ayam, ikan, dan minuman.
Di sisi lain, konsep warteg kekinian mulai memberi angin segar. Dengan tampilan lebih bersih dan pemasaran digital melalui platform seperti Instagram dan TikTok, serta layanan pesan antar seperti GoFood dan GrabFood, potensi penjualan bisa meningkat signifikan.
Meski begitu, keberhasilan tetap bergantung pada beberapa faktor kunci, seperti lokasi strategis, rasa makanan yang konsisten, harga yang sesuai pasar, serta pelayanan yang cepat. Tanpa itu, warteg sulit bersaing meski konsepnya sudah modern.
Kesimpulannya, bisnis warteg tetap menguntungkan, tetapi bukan bisnis yang bisa jalan santai. Diperlukan strategi, efisiensi, dan kerja keras untuk menjaga arus pelanggan tetap ramai setiap hari. Jika dikelola dengan baik, warteg bukan hanya bertahan, tetapi juga bisa berkembang menjadi usaha yang stabil dan berkelanjutan. (*)