BISNIS DAILY, PONTIANAK – Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya memanas secara militer, tetapi juga menunjukkan betapa mahalnya biaya perang modern.
Dalam hitungan hari, biaya perang Amerika Serikat dilaporkan menembus lebih dari 11 miliar dolar AS, atau sekitar 1–2 miliar dolar per hari. Angka ini menunjukkan skala besar operasi militer yang melibatkan teknologi canggih dan logistik global.
Sementara itu, Israel juga menghadapi tekanan biaya yang tidak kecil. Pengeluaran perang disebut mencapai ratusan juta dolar per hari, terutama untuk sistem pertahanan rudal dan operasi militer intensif.
Di sisi lain, Iran cenderung mengeluarkan biaya lebih rendah, namun menghadapi tekanan ekonomi yang jauh lebih berat akibat sanksi dan dampak konflik terhadap infrastruktur serta sektor energi.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai kekuatan dalam perang modern tidak hanya ditentukan oleh militer, tetapi kemampuan negara dalam membiayai perang dalam jangka panjang.
“Perang hari ini bukan hanya soal senjata, tapi siapa yang paling kuat menanggung biaya,” ujarnya.
Dampak konflik ini juga menjalar ke ekonomi global, mulai dari kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, hingga penguatan dolar AS. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi pihak yang paling rentan terdampak. Dengan biaya yang terus membengkak, perang ini pada akhirnya tidak hanya menjadi pertarungan militer, tetapi juga ujian daya tahan ekonomi masing-masing negara