Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Di Balik Dentuman Senjata: Perang Mahal Iran, Israel, dan Amerika yang Menguras Ekonomi Dunia

17 March 2026

OLeh Tim

BISNIS DAILY, PONTIANAK - Di langit Timur Tengah, suara sirene dan dentuman rudal mungkin menjadi tanda paling nyata dari perang. Namun di balik itu, ada pertempuran lain yang tak kalah sengit—perang angka, perang biaya, dan perang daya tahan ekonomi yang perlahan menggerus kekuatan tiga negara besar: Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Perang modern bukan lagi sekadar soal siapa paling kuat secara militer. Ia berubah menjadi soal siapa yang mampu membayar harga paling mahal dan bertahan paling lama.

Dalam hitungan hari, Amerika Serikat telah menggelontorkan lebih dari 11 miliar dolar AS untuk operasi militernya. Angka itu setara dengan triliunan rupiah yang “terbakar” hanya dalam waktu kurang dari sepekan. Setiap hari, biaya yang keluar bisa mencapai satu hingga dua miliar dolar—mengalir untuk bahan bakar jet tempur, peluncuran rudal presisi tinggi, hingga operasi kapal induk yang berlayar tanpa henti.

Di sisi lain, Israel menghadapi tekanan yang tak kalah berat. Negara kecil dengan sistem pertahanan canggih ini harus mengeluarkan ratusan juta dolar setiap hari. Sistem pertahanan rudal yang menjadi tameng utama dari serangan, membutuhkan biaya luar biasa besar, Bisa dibayangkan, satu kali intersepsi saja bisa menelan biaya hingga jutaan dolar. Dalam waktu singkat, ekonomi Israel dipaksa beradaptasi dengan beban perang yang terus membengkak.

Berbeda dengan dua negara tersebut, Iran memainkan strategi yang lebih “hemat”. Dengan memanfaatkan drone dan rudal berbiaya lebih rendah, Iran mampu menekan pengeluaran militer langsung. Namun harga yang harus dibayar datang dari sisi lain: ekonomi yang tertekan sanksi, infrastruktur yang rusak, serta sektor energi yang terganggu. Bagi Iran, perang bukan hanya soal biaya tempur, tetapi soal bertahan di tengah tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Di sinilah wajah asli perang modern terlihat. Setiap rudal yang diluncurkan bukan hanya menghancurkan target, tetapi juga menguras kas negara. Setiap hari konflik berlangsung, angka-angka terus bertambah, bukan hanya korban manusia, tetapi juga defisit anggaran, lonjakan utang, dan tekanan ekonomi yang merambat jauh melampaui medan tempur.

Dampaknya bahkan terasa hingga ribuan kilometer jauhnya. Ketegangan di kawasan seperti Selat Hormuz membuat pasar global gelisah. Harga minyak naik, biaya logistik melonjak, dan inflasi mulai merangkak di berbagai negara. Dunia ikut membayar harga dari perang yang terjadi di satu kawasan.

Perang ini pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menang di medan tempur. Ia adalah ujian tentang siapa yang mampu bertahan paling lama menghadapi tekanan ekonomi. Amerika mungkin memiliki kekuatan finansial terbesar, Israel memiliki teknologi pertahanan paling canggih, dan Iran memiliki strategi biaya rendah. Namun dalam perang yang berkepanjangan, semua kekuatan itu diuji oleh satu hal yang sama: ketahanan ekonomi.

Dan seperti sejarah yang berulang, perang sering kali tidak berakhir ketika peluru terakhir ditembakkan. Ia justru meninggalkan luka yang lebih dalam—pada ekonomi, pada stabilitas, dan pada masa depan negara-negara yang terlibat. (*)

Prev Article
Biaya Perang Iran–Israel–Amerika Membengkak, Siapa Paling Kuat Bertahan?

Related to this topic: