Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Cicilan KPR Makin Berat? Begini Situasi Perbankan Saat Ini

29 April 2026

BISNIS DAILY, PONTIANAK - Cicilan memang terasa lebih berat, bank lebih selektif, dan pembeli pun jadi lebih hati-hati. Nggak heran kalau banyak orang memilih “wait and see”. Di kondisi seperti sekarang, ambil KPR bukan cuma soal mampu bayar DP, tapi juga soal kuat bertahan dengan cicilan jangka panjang. Karena di balik promo bunga ringan di awal, yang paling menentukan tetap satu hal:
apakah kondisi keuangan kita cukup kuat menghadapi fase bunga naik nanti.

Situasi perbankan saat ini menunjukkan satu hal: KPR masih jalan, tapi nggak semudah dulu.

Selain itu, tren suku bunga ke depan diperkirakan bisa lebih turun jika kondisi global membaik. Ini artinya cicilan KPR berpotensi lebih ringan—tapi belum terjadi sekarang.

Meski sekarang terasa berat, ada sinyal perbaikan. Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan kredit di 2026 bisa mencapai 8–12%, termasuk sektor KPR.

Arah 2026: Pelan-Pelan Mulai Pulih

Jadi, pintu masih terbuka—tapi harus lebih siap secara finansial.

  • program khusus (misalnya diskon bunga) masih ditawarkan untuk menarik pembeli
  • banyak bank tetap kasih promo bunga ringan di awal
  • DP 0% masih diperbolehkan hingga 2026 lewat kebijakan pelonggaran dari Bank Indonesia 

Meski ketat, bukan berarti peluang tertutup. Justru ada beberapa kebijakan yang masih mendukung:

Ada Kabar Baik: DP Bisa 0%, Promo Masih Jalan

Ini karena bank ingin menjaga kualitas kredit di tengah risiko yang mulai naik.

  • rasio utang lebih diperhatikan
  • pengecekan penghasilan lebih detail
  • proses approval lebih ketat

Beberapa perubahan yang terasa:

Kondisi ekonomi yang belum stabil bikin bank juga nggak bisa “jor-joran” kasih kredit.

Bank Lebih Selektif, Nggak Semudah Dulu

Artinya, banyak pembeli kaget saat masa bunga ringan selesai dan cicilan tiba-tiba naik signifikan.

  • setelah itu (floating): bisa tembus 10–13%
  • bunga promo (fixed) awal: sekitar 2–6%

Di lapangan, skema KPR umumnya masih seperti ini:

Bank Indonesia mencatat rata-rata suku bunga kredit perbankan masih berada di kisaran 8,80% pada awal 2026, turun tipis dari tahun sebelumnya.

Salah satu keluhan utama masyarakat saat ini adalah cicilan KPR yang terasa makin berat. Meski suku bunga acuan relatif stabil, transmisi ke bunga kredit belum sepenuhnya turun.

Bunga Masih Tinggi, Cicilan Terasa Ngegas

Di sisi lain, risiko kredit juga mulai meningkat. Rasio kredit bermasalah (NPL) KPR tercatat naik menjadi sekitar 3,22%. Ini menjadi salah satu alasan kenapa bank sekarang lebih hati-hati dalam menyetujui pengajuan kredit.

Data terbaru menunjukkan, pertumbuhan kredit KPR masih berjalan, namun melambat dibandingkan sebelumnya. Bank Indonesia mencatat outstanding KPR pada awal 2026 mencapai sekitar Rp836 triliun, dengan pertumbuhan yang lebih rendah dibanding akhir 2025.

JAKARTA, insidepontianak.com — Di tengah tekanan ekonomi dan melemahnya rupiah, sektor perbankan kini mulai lebih selektif dalam menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Kondisi ini ikut memengaruhi cicilan yang dirasakan masyarakat—terutama bagi calon pembeli rumah.

Prev Article
7 Alasan Kenapa Banyak Orang “Wait and See” Beli Properti Saat Ini
Next Article
The Rise of AI-Powered Personal Assistants: How They Manage

Related to this topic: