Bisnis Daily, PONTIANAK - Libur Natal yang biasanya identik dengan Bali yang penuh wisatawan, tahun ini justru terasa berbeda. Sejumlah kawasan wisata tampak lebih lengang dari biasanya. Hotel tidak penuh, pantai tak seramai ekspektasi, dan arus wisatawan terkesan landai. Kok bisa?
1. Libur Natal Singkat, Tidak Semua Ambil Cuti
Libur Natal tahun ini relatif singkat dan tidak banyak “cuti bersama” yang mengapit akhir pekan panjang. Akibatnya, banyak calon wisatawan memilih tidak bepergian jauh dan menunda liburan ke momen lain yang lebih panjang.
2. Tiket Pesawat Mahal Jelang Natal
Menjelang Natal, harga tiket pesawat melonjak. Bagi wisatawan domestik, biaya transportasi ke Bali justru terasa lebih mahal dibanding liburan ke destinasi lain, bahkan ke luar negeri. Kondisi ini membuat sebagian orang mengurungkan niat liburan ke Bali.
3. Fokus Perayaan di Kampung Halaman
Bagi sebagian masyarakat, Natal adalah momen kumpul keluarga, bukan jalan-jalan. Banyak yang memilih pulang kampung dan merayakan Natal secara sederhana, sehingga jumlah wisatawan ke destinasi wisata seperti Bali tidak melonjak signifikan.
4. Wisatawan Asing Tak Lonjak Signifikan
Meski wisatawan mancanegara tetap datang, lonjakannya tidak setinggi ekspektasi. Banyak turis asing yang datang lebih lama, tapi dengan pola belanja hemat dan aktivitas terbatas, sehingga kawasan wisata terlihat lebih sepi.
5. Perubahan Pola Liburan
Tren liburan juga berubah. Wisatawan kini lebih memilih:
- Staycation singkat
- Vila privat
- Liburan dekat rumah
Akibatnya, kawasan publik di Bali tampak lebih lengang meski wisatawan tetap ada.
Dampak bagi Pelaku Wisata
Sepinya Bali saat libur Natal berdampak langsung pada:
- Hotel dan penginapan
- Sopir pariwisata
- Pedagang oleh-oleh
- UMKM wisata
Banyak pelaku usaha berharap momen Tahun Baru bisa menjadi penyeimbang setelah Natal yang sepi.
Libur Natal yang sepi di Bali bukan karena daya tariknya menurun, melainkan akibat libur yang singkat, tiket mahal, dan perubahan pola wisatawan. Bali masih jadi magnet wisata, tetapi ekspektasi keramaian di momen Natal kini tak bisa lagi disamakan dengan tahun-tahun sebelumnya. (*)