Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Dari Setetes Kaldu ke Imperium Rasa: Mengapa Ajinomoto Tak Pernah Tumbang

13 January 2026

Bisnis Daily, PONTIANAK - Di jutaan dapur Indonesia, Ajinomoto sering hadir tanpa disadari. Ia ada di kuah bakso, nasi goreng pinggir jalan, hingga masakan rumahan. Kecil, putih, nyaris tak terlihat. Tapi justru di situlah kekuatannya: Ajinomoto tidak perlu mencolok untuk menguasai rasa.

Sedikit yang tahu bahwa di balik sejumput micin itu berdiri sebuah perusahaan yang sudah berumur lebih dari satu abad—dan masih terus tumbuh.

Lahir dari Rasa yang Tak Bisa Dijelaskan

Awalnya bukan bisnis. Ajinomoto lahir dari rasa penasaran. Tahun 1908, seorang profesor Jepang bernama Kikunae Ikeda mencicipi kaldu rumput laut yang rasanya berbeda: lebih dalam, lebih bulat, lebih “nempel” di lidah. Ia sadar, itu bukan asin, bukan manis, bukan pahit.

Ia lalu menemukan satu hal baru: umami. Dari satu penemuan rasa, lahirlah produk bernama Ajinomoto—“esensi rasa”. Dari dapur kecil di Tokyo, produk ini menyebar ke dunia, mengubah cara manusia menikmati makanan.

Ajinomoto Tak Pernah Menjual Micin

Inilah rahasia pertama mengapa Ajinomoto bertahan: mereka tidak menjual bubuk, mereka menjual pengetahuan. Ketika merek lain menjual “gurih”, Ajinomoto menjual ilmu tentang rasa. Mereka adalah pemilik sah konsep umami, dan itu membuat mereka bukan sekadar pemain industri—melainkan referensi global. Restoran, chef, industri makanan, hingga rumah sakit memakai produk Ajinomoto bukan karena murah, tetapi karena akurasi rasa.

Menaklukkan Indonesia dengan Cara Halus

Saat masuk Indonesia pada 1969, Ajinomoto tidak datang sebagai merek Jepang yang sok pintar. Mereka belajar.

Mereka tahu lidah Indonesia mencintai:

  • kaldu ayam

  • bawang putih

  • gorengan

  • kuah

Maka lahirlah Masako, Sajiku, dan Saori—produk yang terasa lokal meski diproduksi raksasa global. Ajinomoto memilih menjadi “bagian dari dapur Indonesia”, bukan sekadar tamu.

Strategi ini membuat mereka bertahan bahkan ketika isu “anti micin” sempat mengguncang.

Ketika Dunia Takut MSG, Ajinomoto Bergerak Diam-Diam

Saat sebagian konsumen mulai menjauhi MSG, Ajinomoto tidak melawan dengan iklan keras. Mereka mengalihkan fokus:

  • ke makanan siap saji

  • frozen food

  • nutrisi kesehatan

  • hingga asam amino untuk medis

Ajinomoto berubah dari perusahaan bumbu menjadi perusahaan sains pangan.

Inilah kecerdasan bisnis mereka:
mereka tidak bergantung pada satu produk, meski satu produk itulah yang membuat mereka terkenal.

Imperium Rasa yang Nyaris Tak Terlihat

Hari ini, Ajinomoto hadir di lebih dari 130 negara. Tapi ia tidak tampil sebagai merek yang berisik. Tidak flamboyan. Tidak agresif.

Ia bekerja di belakang layar:
di pabrik makanan,
di dapur restoran,
di laboratorium gizi,
di rantai pasok dunia.

Dan justru karena itulah, ia bertahan.

Karena di dunia makanan, yang paling berkuasa bukan yang paling terlihat—tetapi yang paling menentukan rasa. (*)

Prev Article
Bukan Cuma Micin: Ini Rahasia Ajinomoto Bisa Bertahan Lebih dari 100 Tahun
Next Article
The Rise of AI-Powered Personal Assistants: How They Manage

Related to this topic: