Bisnis Daily, PONTIANAK - Di tengah gempuran cokelat impor, tren makanan viral, dan perubahan selera konsumen yang serba cepat, SilverQueen tetap bertahan—bahkan tetap jadi pilihan utama. Padahal usianya sudah lebih dari setengah abad. Lalu, apa rahasianya?
Jawabannya bukan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi strategi jangka panjang yang dijalankan secara konsisten.
1. Konsistensi Rasa: Jangan Ubah yang Sudah Dicintai
Salah satu keputusan paling penting SilverQueen adalah tidak mengutak-atik rasa utama. Cokelat kacang mede yang menjadi ikon sejak awal tetap dipertahankan.
Di saat banyak brand tergoda mengikuti tren ekstrem—terlalu manis, terlalu pahit, atau terlalu eksperimental—SilverQueen memilih jalan aman: rasa familiar yang menenangkan. Konsumen tahu persis apa yang mereka dapatkan setiap kali membeli.
Kepercayaan rasa inilah yang membuat pelanggan kembali lagi dan lagi.
2. Positioning “Premium Tapi Terjangkau”
SilverQueen sejak awal memosisikan diri sebagai cokelat yang:
terlihat premium
rasanya serius
tapi harganya masih masuk akal
Ini strategi kunci. SilverQueen bukan cokelat murah, tapi juga bukan barang mewah yang sulit dijangkau. Ia berada di tengah—cukup istimewa untuk hadiah, tapi cukup terjangkau untuk konsumsi pribadi.
Segmentasi ini membuat pasar SilverQueen sangat luas.
3. Distribusi Kuat, Selalu Mudah Ditemukan
Strategi lain yang krusial adalah distribusi yang merata. SilverQueen mudah ditemukan:
di warung kecil
minimarket
supermarket
hingga toko oleh-oleh
Keberadaan yang konsisten di berbagai titik penjualan membuat SilverQueen selalu “hadir” dalam keseharian konsumen. Saat orang butuh cokelat cepat, SilverQueen hampir selalu jadi opsi pertama.
4. Branding Sederhana tapi Ikonik
SilverQueen tidak pernah terlalu ramai soal desain. Bungkus peraknya nyaris tak berubah selama puluhan tahun. Justru di situlah kekuatannya.
Di tengah desain kemasan yang makin heboh, kesederhanaan SilverQueen menjadi pembeda. Konsumen bisa mengenalinya dari jauh, bahkan tanpa membaca nama.
Brand recognition yang kuat ini sulit ditandingi.
5. Tidak Agresif, Tapi Tepat Sasaran
SilverQueen jarang bermain iklan yang terlalu berisik. Ia tidak bergantung pada gimmick viral sesaat. Sebaliknya, brand ini menempel pada momen emosional:
hadiah
perhatian kecil
perayaan sederhana
SilverQueen tidak menjual cokelat, tapi perasaan aman saat memberi hadiah. Strategi emosional ini jauh lebih tahan lama dibanding tren sesaat.
6. Adaptif Tanpa Kehilangan Jati Diri
Meski dikenal konservatif, SilverQueen tetap beradaptasi:
menambah varian baru
memperbarui ukuran kemasan
mengikuti standar produksi modern
Namun adaptasi ini dilakukan tanpa mengorbankan identitas utama. Varian baru hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti.
7. Dukungan Korporasi, Akar Lokal
Bergabung dengan Delfi Group memberi SilverQueen kekuatan:
efisiensi produksi
jaringan distribusi regional
manajemen modern
Namun keputusan pentingnya adalah tetap memproduksi di Indonesia. Ini menjaga biaya, kualitas, dan kedekatan dengan pasar lokal.
8. Menjadi Bagian dari Budaya Populer
Tanpa disadari, SilverQueen telah menjadi bagian dari budaya sehari-hari masyarakat Indonesia. Ia muncul di:
momen nembak
hari Valentine
hadiah spontan
nostalgia masa sekolah
Saat sebuah produk sudah masuk ke memori kolektif, ia tidak lagi bersaing hanya soal harga atau rasa—tapi soal emosi dan kebiasaan.
SilverQueen bertahan bukan karena keberuntungan, tapi karena strategi yang sabar dan konsisten. Ia tahu siapa dirinya, siapa pasarnya, dan kapan harus berubah—serta kapan harus bertahan.
Di dunia yang serba cepat, SilverQueen memilih melangkah pelan tapi pasti. Dan justru itulah yang membuat cokelat legendaris ini Rahasia SilverQueen Bertahan Puluhan Tahun. (*)