Bisnis Daily, PONTIANAK - Di tengah gempuran bumbu instan, merek luar negeri, hingga tren makanan sehat, Ajinomoto tetap eksis dan bahkan makin besar. Bukan kebetulan. Ada strategi bisnis yang membuat “raja rasa umami” ini terus bertahan lebih dari satu abad.
Lalu, apa sebenarnya kunci kekuatan bisnis Ajinomoto?
1. Menjual Ilmu, Bukan Sekadar Bumbu
Sejak awal, Ajinomoto tidak memposisikan diri hanya sebagai penjual penyedap rasa, tapi sebagai penemu rasa kelima: umami. Ini membuat mereka punya keunggulan ilmiah yang sulit ditiru.
Ketika merek lain hanya jual rasa gurih, Ajinomoto menjual konsep rasa—dan itu memberi mereka legitimasi di mata dunia kuliner dan industri makanan
2. Bermain Global, Tapi Rasa Lokal
Di Indonesia, Ajinomoto tidak memaksakan cita rasa Jepang. Mereka justru menyesuaikan produk dengan lidah lokal:
Masako rasa ayam kampung
Sajiku untuk gorengan
Saori untuk masakan oriental versi Indonesia
Strategi ini membuat Ajinomoto terasa “brand lokal”, bukan produk impor.
3. Kuasai Bahan Baku Sendiri
Ajinomoto tidak tergantung pada supplier luar. MSG mereka diproduksi lewat fermentasi tebu dan singkong, bahan yang melimpah di negara tropis seperti Indonesia.
Artinya:
biaya produksi lebih stabil
tidak terguncang harga impor
rantai pasok lebih aman
Ini keunggulan besar saat krisis global.
4. Diversifikasi Bisnis
Saat tren “anti micin” muncul, Ajinomoto tidak tumbang. Mereka justru meluas ke:
makanan beku
bumbu siap pakai
saus
hingga nutrisi dan farmasi
Ajinomoto sekarang bukan hanya pemain dapur, tapi juga pemain industri kesehatan dan pangan masa depan.
5. Halal dan Kepercayaan Publik
Di Indonesia, Ajinomoto termasuk yang paling cepat mengamankan sertifikasi halal. Ini membuat mereka aman dari krisis kepercayaan yang sering menghantam produk makanan.
Bagi pasar Muslim terbesar di dunia, ini bukan detail kecil—ini penentu hidup mati merek.
Kesimpulannya
Ajinomoto bertahan bukan karena “micin murah”, tapi karena:
“mereka menguasai ilmu, rantai pasok, merek, dan psikologi pasar”
Di saat banyak merek datang dan pergi, Ajinomoto membuktikan satu hal: kalau kamu menguasai rasa, kamu menguasai pasar. (*)