BISNIS DAILY, PONTIANAK - FIFA World Cup 2026 yang berlangsung pada 11 Juni–19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi ajang olahraga terbesar tahun ini dengan format baru 48 negara peserta. Namun turnamen tersebut digelar ketika ekonomi dunia sedang menghadapi perlambatan pertumbuhan, tekanan inflasi, serta ketidakpastian geopolitik yang meningkat.
Ekonomi Dunia Sedang Melambat
Lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026.
- IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 3,1 persen pada 2026, lebih rendah dibanding proyeksi sebelumnya.
- World Bank bahkan memangkas proyeksi menjadi sekitar 2,5 persen akibat konflik geopolitik, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian perdagangan global.
- Inflasi global diperkirakan kembali meningkat seiring kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok.
Konflik di Timur Tengah, ketegangan perdagangan antarnegara besar, serta pelemahan ekonomi sejumlah negara maju menjadi faktor utama yang membayangi perekonomian dunia saat ini.
Piala Dunia Jadi Mesin Penggerak Ekonomi
Di tengah perlambatan ekonomi global, Piala Dunia 2026 justru menjadi salah satu stimulus ekonomi terbesar tahun ini.
Beberapa dampak ekonomi yang diperkirakan muncul antara lain:
Lonjakan sektor pariwisata
Jutaan wisatawan diperkirakan datang ke Amerika Utara selama turnamen berlangsung. Hotel, restoran, transportasi, dan sektor hiburan menjadi penerima manfaat terbesar.
Perputaran uang miliaran dolar
Penjualan tiket, hak siar televisi, sponsor, merchandise, hingga aktivitas UMKM lokal menciptakan perputaran ekonomi yang sangat besar.
Peningkatan lapangan kerja
Ribuan pekerjaan sementara tercipta pada sektor keamanan, transportasi, perhotelan, hingga layanan pendukung acara.
Dorongan investasi infrastruktur
Sejumlah kota tuan rumah melakukan peningkatan stadion, jaringan transportasi, dan fasilitas publik untuk menyambut turnamen.
Namun Ada Tantangan
Meski berpotensi mendongkrak ekonomi lokal, Piala Dunia tidak sepenuhnya kebal terhadap kondisi global.
Beberapa risiko yang dapat mempengaruhi dampak ekonominya antara lain:
- Harga tiket yang sangat tinggi sehingga mengurangi daya beli sebagian suporter.
- Inflasi dan biaya perjalanan internasional yang masih mahal.
- Pelemahan ekonomi di sejumlah negara peserta yang dapat menekan jumlah wisatawan.
- Ketidakpastian geopolitik yang dapat mempengaruhi mobilitas internasional.
Dampaknya bagi Indonesia
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 tidak memberikan dampak ekonomi langsung sebesar negara tuan rumah. Namun ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan:
- Kenaikan ekspor komoditas jika permintaan global tetap terjaga.
- Peluang promosi pariwisata dan produk kreatif Indonesia melalui momentum global.
- Meningkatnya aktivitas ekonomi sektor media, penyiaran, dan industri olahraga.
Di sisi lain, Indonesia tetap harus mewaspadai perlambatan ekonomi dunia, fluktuasi harga energi, serta potensi tekanan terhadap nilai tukar akibat ketidakpastian global.
Piala Dunia 2026 hadir pada saat ekonomi global sedang berada dalam fase yang tidak mudah. Di satu sisi, dunia menghadapi perlambatan pertumbuhan, inflasi, dan ketegangan geopolitik. Di sisi lain, turnamen sepak bola terbesar dunia ini menjadi sumber optimisme karena mampu menggerakkan konsumsi, pariwisata, investasi, dan lapangan kerja dalam skala besar. Dengan kata lain, Piala Dunia 2026 bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga salah satu motor ekonomi global di tengah ketidakpastian yang masih membayangi dunia. (*)