PONTIANAK, BISNIS DAILY – Siapa bilang mantan anak band hanya bisa berkutat dengan musik? Timotius Firman, mantan personel band St. Loco, justru punya kesibukan baru yang tak kalah menarik. Ia kini serius mengembangkan bisnis sambal kemasan bernama Sambal Babon.
Uniknya, bisnis ini bukan berawal dari ide mencari peluang usaha. Semuanya bermula dari kebiasaan Timotius meracik sambal sendiri di rumah.
Dari sekadar mencoba-coba resep, ia mulai menemukan racikan yang cocok di lidah. Sambal buatannya kemudian mendapat respons positif dari orang-orang terdekat. Dari situlah muncul ide untuk menjadikannya produk jualan.
Ketertarikan Timotius pada bisnis kuliner semakin besar ketika pandemi Covid-19 membuat aktivitas bermusik ikut terhenti. Bersama sang istri, ia sempat membuka usaha rice bowl bernama Ayam The King. Menu ayam suwir dengan sambal racikan sendiri menjadi andalan mereka.
Meski usaha tersebut hanya bertahan hampir dua tahun, pengalaman itu justru menjadi bekal untuk mencoba bisnis kuliner berikutnya. Pada 2026, Timotius kembali menghidupkan resep andalannya melalui Sambal Babon. Nama Babon sendiri merupakan singkatan dari bawang dan rebon, dua bahan yang menjadi karakter utama sambal buatannya.
Produk ini dipasarkan dengan harga sekitar Rp50.000 per toples.
Jualan Sambal di Tengah Festival Musik
Menariknya, Timotius tidak hanya mengandalkan penjualan online. Ia juga membawa Sambal Babon langsung ke tengah keramaian. Salah satunya dengan membuka stan makanan di festival musik Hammersonic 2026 pada Mei lalu.
Di sana, ia tidak cuma menawarkan sambal. Ada pula nasi jeruk, lemper, kopi, hingga minuman segar yang ikut meramaikan lapak jualannya. Strategi ini rupanya cukup berhasil. Stok dagangan yang dibawanya dilaporkan ludes selama dua hari festival berlangsung. Bagi Timotius, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa dunia musik dan kuliner ternyata bisa berjalan beriringan.
Tak Cuma Sambal, Mulai Tambah Menu
Setelah Sambal Babon mendapat tempat di hati konsumen, Timotius mulai memperluas pilihan produknya. Ia menghadirkan Lemper Babon dan Gado-gado Babon yang juga mengandalkan resep keluarga.
Langkah ini menjadi bagian dari upayanya mengembangkan bisnis kuliner agar tidak bergantung pada satu produk saja. Perjalanan Timotius menunjukkan bahwa peluang bisnis bisa datang dari hal sederhana, termasuk hobi memasak di rumah.
Dari panggung musik, kini ia punya panggung baru di dunia kuliner. Tantangannya tentu berbeda: menjaga rasa tetap konsisten, mempertahankan pelanggan, dan membuat Sambal Babon semakin dikenal.
Siapa tahu, sambal racikan mantan anak band ini nantinya bisa menjadi salah satu produk kuliner yang punya pasar lebih luas.