Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Meneladani Spirit Perjuangan Ruhana Kuddus

20 February 2026

Bisnis Daily, JAKARTA - Para jurnalis perempuan bagaikan “tertampar”. Ketua Dewas Pers Komaruddin Hidayat dengan tegas mengingatkan mereka agar jangan pernah merasa hebat hanya karena menyandang predikat Jurnalis. 

“Karena, kita sebenarnya hanya meneruskan mata rantai dari ide-ide terdahulu,” tukasnya saat menjadi panelis diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes : Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia” (6/2/2026) di Jakarta. 

Ide-ide terdahulu yang ia maksud adalah pemikiran tentang kemerdekaan dan kemodernan Indonesia, yang antara lain disuarakan kaum pergerakan, termasuk Ruhana Kuddus (1887-1972).

Panelis lain, Ketua Yayasan Amai Setia Trini Tambu melengkapi “tamparan” itu dengan menantang para jurnalis perempuan melakukan perubahan. Caranya, dengan menggerakkan pena dan pikiran seperti yang pernah dilakukan Ruhana Kuddus.

“Kita telah menempuh jalan yang sangat panjang dan mencapai kemajuan zaman sekarang. Tapi apakah sudah cukup? Saya rasa, masih banyak ruang untuk perbaikan dan belajar kerja keras. Itulah caranya kita menghargai jasa Ruhana Kuddus. Saya rasa, warisan terbesar Ruhana adalah keyakinan bahwa pena dan pikiran seorang perempuan dari mana pun bisa menggerakkan perubahan. Sekarang, pena dan pikiran itu ada di tangan kita semua. Pertanyaannya adalah bagaimana kita akan menggunakannya?” tanya Trini menggugah.

Jangan merasa hebat dan lakukanlah perubahan. Pasti bisa! Karena, Ruhana pun melakukan hal-hal seperti itu bahkan sejak kanak-kanak.

Bangunan Yayasan Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang. (Dokpri. Ramadhan Fadli)

Ya, wajah pertama Ruhana adalah sosoknya yang merupakan pendidik. 

Ketika itu, tahun 1892, ayah Ruhana dipindahtugaskan ke daerah Simpang Tonang, Talu, Pasaman, Sumatera Barat. Saat usianya baru delapan tahun itulah, Ruhana yang sudah pandai membaca dan menulis sering membaca surat kabar dengan suara keras. Tak hanya di teras rumahnya, hal itu dilakukannya juga di tempat orang-orang biasa berkumpul.

Apa yang dilakukan Ruhana memunculkan decak kagum masyarakat. Karena biasanya hanya laki-laki saja yang pandai membaca dan menulis. Jarang ada perempuan punya kemampuan seperti Ruhana. Kekaguman itu pun membuat anak-anak di sekitar rumah Ruhana meminta agar diajarkan juga mengenal huruf, angka, membaca, menulis hingga mengaji Al Qur’an. Berkat dukungan orangtuanya, Ruhana pun menjadi “Guru Cilik”. Aktivitas mendidik secara gratis ini dilakukan Ruhana selama empat tahun.

Ketika harus kembali ke Koto Gadang, Ruhana melanjutkan lagi kegiatan pendidikan dan pembelajarannya. Ia melakukannya di ‘rumah gadang’ kaumnya yang berbentuk arsitektur “gajah maharam”, bergonjong dan berukir potongan rumah adat Minangkabau yang asli. Itu pula alasan mengapa kemudian diistilahkan sebagai “Sekolah Rumah Gadang”. Bahan pembelajaran yang diajarkan Ruhana, dibawah asuhan neneknya, terus berkembang termasuk kerajinan tangan seperti sulam menyulam dan merenda.

Masih terkait pendidikan, saat dewasa, Ruhana juga mendirikan “Roehana School”. Ketika itu, tahun 1916, saat Ruhana dan suaminya Abdoel Koeddoes meninggalkan Koto Gadang dan pindah ke Bukittinggi. Hasratnya untuk mendirikan sekolah dan mengajar terus menggelegak. Dengan sumber daya yang dimiliki, termasuk uang simpanan, Ruhana mendirikan “Roehana School” di Fort de Kock yang amat sederhana. Murid-muridnya cukup banyak, dan berasal dari berbagai nagari serta kota, termasuk Koto Gadang. Pelajaran keterampilan yang diberikan juga bertambah yakni menjahit dengan mesin jahit kaki.

Dalam satu kesempatan, Ruhana pernah mengingatkan para muridnya:

“Kemajuan zaman tidak akan pernah membuat kaum perempuan menyamai kaum laki-laki. Perempuan tetap perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang berubah, perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik, tidak untuk ditakut-takuti, dibodoh-bodohi, apalagi dianiaya.”        

Wajah kedua Ruhana yaitu penggerak ekonomi terutama dengan memberdayakan kaum perempuan. Tiga tahun setelah menikah dengan Abdoel Koeddoes, Ruhana mendirikan gedung sekolah “Kerajinan Amai Setia” (KAS) bersama dua temannya Rekna Puti dan Hadisah. KAS resmi berdiri pada 11 Februari 1911, dan tujuannya adalah “Memajukan perempuan di Koto Gadang dalam berbagai aspek kehidupan dalam rangka mencapai kemuliaan seluruh bangsa.”

Wajah ketiga Ruhana adalah jurnalis. Takdir Ruhana menjadi jurnalis bermula dari diskusinya bersama sang suami. Ruhana mengatakan, selama dirinya mengajar di sekolah-sekolah maka yang bertambah pintar hanya murid-muridnya saja. “Ambo ingin sekali berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan kaum perempuan di daerah lain sehingga bisa membantu lebih banyak lagi.”

Dan sesudah suaminya menyarankan untuk melakukan keinginannya itu dengan menulis di surat kabar, Ruhana pun mengiyakan. “Ambo juga sedang berpikir ke arah itu. Setiap kali membuka tulisan tentang kaum perempuan di surat kabar, yang isinya hanya perlakuan buruk, atau perempuan hanya dijadikan hiburan dan perhiasan pria, hati ini pilu sekali.”      

Ternyata, yang kemudian terjadi justru lebih dari sekadar menulis di surat kabar. Karena berkat saran dan bantuan Pemimpin Redaksi Surat Kabar Oetoesan Melajoe, Soetan Maharadja, Ruhana kemudian justru menerbitkan surat kabar.

Ruhana mengatakan, “Keinginan ambo sebenarnya bukan sekadar meminta ruangan kaum ibu dalam surat kabar yang Bapak pimpin. Tetapi, kalau boleh, penerbitan surat kabar yang istimewa, khusus untuk kaum perempuan.”

Pada 10 Juli 1912, surat kabar itu terbit perdana. Soenting Melajoe namanya. Ruhana tercantum sebagai Pemimpin Redaksi, sedangkan putri Soetan Maharadja yakni Ratna Djoewita menjadi Redaktur Pelaksana. Soenting Melajoe merupakan surat kabar perempuan pertama di Sumatera Barat dan pelopor surat kabar perempuan di Tanah Melajoe. Cakupan distribusinya tidak hanya Minangkabau tetapi juga beredar hingga Medan, Pekanbaru, Batavia, bahkan hingga ke Malaka dan Singapura. Ruhana menjadi Pemimpin Redaksi hingga 1920.

Ya, Ruhana paham betul tentang makna kehadiran surat kabar. Menurutnya, “… membaca surat kabar seperti meminum air laut. Semakin air (laut) diminum, justru semakin bertambah dahaga.”

Alam pegunungan dan pesawahan di sekitar Yayasan Amai Setia Koto Gadang. (Dokpri. Ramadhan Fadli)

Penuh Peduli

Sebenarnya masih ada satu lagi wajah Ruhana yakni relawan kemanusiaan. Ini terbukti dari kiprahnya yang peduli dan berani, dengan membantu para pasien saat terjadi wabah cacar ganas di Koto Gadang dan Bukittinggi. Kala itu, kebanyakan penderita cacar dikucilkan dan di halaman rumah mereka dipasangi bendera merah. Ini pertanda bahwa ada penghuni rumah terpapar cacar. Vaksin cacar masih sulit diperoleh sehingga banyak penduduk meninggal.

Suatu hari, Ruhana justru mengunjungi rumah kerabatnya di Koto Gadang yang terpasang bendera merah. Bila orang lain takut tertular cacar dengan melihat bendera merah itu, tetapi Ruhana justru masuk rumah kerabatnya. Di dalam, Ruhana menyaksikan penderitaan anak kerabatnya yang berusia lima tahun tengah menderita cacar ganas. Anak itu dikurung di kamar belakang dalam ruangan gelap gulita.

Ruhana dengan gagah berani justru membuka kamar dan menggendong anak kecil sembari menegur saudaranya. “Seharusnya anak ini bukannya ditakuti, apalagi dikurung, tetapi diobati. Bagaimana penyakitnya bisa sembuh kalau dibiarkan begini?”

Ruhana pun membawa anak kerabatnya itu ke rumah sakit.

Dari situ, Ruhana kemudian mengadakan pertemuan dengan beberapa pemuka masyarakat dan pegawai pemerintah bidang kesehatan. Dalam pertemuan itu, Ruhana mengingatkan bukan hanya anak yatim dan miskin saja yang perlu bantuan, tapi juga anak-anak penderita cacar. Hebatnya lagi, semua surau (mushala) diminta mengumumkan kepada siapa saja untuk tidak mengucilkan para penderita cacar, dan segera mencarikan obatnya.

Bahkan melalui surat kabar, Ruhana mengimbau pejabat pemerintah dan para donator untuk menyumbangkan uang demi membeli vaksin cacar untuk para pasien. Selain itu, rumah sakit juga diingatkan untuk menerima dan merawat pasien penderita penyakit ganas itu.

Betapa penuh pedulinya Ruhana terhadap sesama. Rasa peduli ini menjadi spirit pertama yang harus diteladani dari sosok Ruhana yang menerima anugerah Pahlawan Nasional pada 2019 itu.

Anti-Ketidakadilan

Sejak muda Ruhana bertekad mendobrak jalan emansipasi dan pemberdayaan perempuan. Ia tak senang dengan ketidakadilan yang dialami kaum perempuan. 

Rasa terusiknya itu sering ia sampaikan kepada sang ayah, Mohamad Rasjad Maharadjo Soetan. Katanya suatu kali, “Ayah, mengapa hanya anak laki-laki yang diperbolehkan sekolah? Bilakah ada sekolah untuk anak perempuan di sini? Bilakah ambo bisa sekolah?”

Menjadi Visioner

Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Zulfiani Lubis menilai, Ruhana Kuddus merupakan sosok yang visioner. Salah satu yang menjadi dasarnya adalah ketika Ruhana menerbitkan Soenting Melajoe dan mengibaratkan surat kabarnya itu sebagai Pelepas lapar dan dahaga anak cucu terhadap ilmu pengetahuan. 

Uni pun membacakan kutipan pernyataan Ruhana kala mengiringi penerbitan Soenting Melajoe:

“Kita hikmatkan Soenting Melajoe. Suatu benih tanaman yang kelak di belakang hari akan menjadi benih tanaman yang akan menghasilkan buah-buahan yang amat lezat cita rasanya, akan melepaskan lapar dan haus anak cucu kita. Ketahuilah terang akan melepaskan lapar dan haus anak cucu kita. Dengannya baunya wangi, cahayanya benderang. Bangsaku perempuan jadi pengarang. Saya bersama Zubaidah Ratna Djoewita rupanya amat banyak perempuan di berbagai pelosok yang bisa mengarang dan telah mengirimkan karyanya kepada kami, serta mendukung pergerakan kami. Setelah itu penulis dari kaum laki-laki juga ikut mendukung gerakan kami. Meski cemooh juga datang karena kami dianggap melawan takdir. Kami menjawabnya.”

Sungguh visioner sekali Ruhana Kuddus ini, tutur Uni, sambil memberi apresiasi setinggi-tingginya terhadap penerbitan Soenting Melajoe sebagai bentuk “makanan rohani” yakni ilmu pengetahuan.

Sejumlah buku biografi Ruhana Kuddus di Perpustakaan HB Jassin, Cikini, Jakarta. (Dokpri. Ramadhan Fadli)

Senantiasa Tegar

Perjalanan hidup Ruhana bukan tanpa halang-rintang. Tapi semua itu, tak pernah mampu membuat Ruhana patah semangat. Apalagi pepatah Minangkabau memang menandaskan, “Samuik tapijak indak mati”. Artinya “Semut terinjak tidak mati”. Ini menggambarkan seseorang yang sangat sabar, tenang, dan mampu menahan beban hidup atau ujian tanpa mengeluh. 

Ketegaran Ruhana inilah yang patut menjadi suri tauladan, khususnya bagi para jurnalis perempuan. 

Diantara haling-rintang yang sempat dialami Ruhana adalah ketika dirinya dilarang oleh mertuanya untuk pergi ke Belanda demi memperkenalkan hasil produksi kerajinan tangan sekolah KAS. 

Alasan larangan itu, karena Ruhana tidak didampingi sang suami untuk pergi ke Belanda. Padahal saat itu, kesempatan begitu terbuka bagi Ruhana untuk mengikuti pameran hasil kerajinan rakyat yang bertajuk Tentoostelling itu. Ruhana tetap tegar dan menerima keputusan larangan dari mertuanya itu.

Ketegaran lain juga ditampakkan Ruhana ketika ia dituduh memperkaya diri sendiri beserta keluarganya dengan memanfaatkan dana pembangunan gedung sekolah KAS. Ini memang tuduhan yang serius. Sampai-sampai, Ruhana harus berkali-kali menghadapi sidang pengadilan, hingga akhirnya Landraad di Fort de Kock menyatakan dia tidak bersalah. Sekaligus dinyatakan bahwa pembukuan keuangan dan anggaran untuk pembangunan gedung sekolah KAS adalah bersih serta beres.

Begitulah, semua ujian hidup yang dialami Ruhana ibarat kata pepatah Minangkabau yakni “Alam takambang jadi guru”. Artinya “Alam terbentang jadi guru”. Maksudnya, setiap ujian dan pengalaman hidup merupakan pelajaran terbaik untuk mendewasakan diri.

Berjiwa Kreatif

Spirit perjuangan Ruhana berikutnya yang harus menjadi suri tauladan jurnalis perempuan masa kini adalah berjiwa kreatif. 

Diantara sisi kreatif yang dilakukan Ruhana adalah memanfaatkan secara legal, uang penghasilan dari lotere untuk membeli sebidang tanah di Koto Kaciak, Koto Gadang dan membangun gedung sekolah KAS. Gedung sekolahnya meliputi ruang kelas untuk mengajar, ruang guru dan ruang pameran hasil karya murid. Selain dari hasil penyelenggaraan lotere, gedung sekolah ini juga dibangun berkat sumbangan dari masyarakat Koto Gadang.

Jiwa kreatif Ruhana lainnya juga muncul dan berhasil membantu kelancaran aktivitas pembelajaran di sekolahnya. Ketika itu, Ruhana belajar membordir dengan menggunakan mesin jahit merek Singer pada sekolah bordir milik keturunan Cina di Bukittinggi. Pada waktu itu, untuk menjahit orang lebih banyak menggunakan jarum tangan, karena mesin jahit masih merupakan barang baru dan mahal harganya atau sekitar 215 gulden per unit. Sekolah menjahit bordir milik orang Cina ini sekaligus agen penjual mesin jahit merek Singer di Bukittinggi.

Ruhana pun menawarkan agen Singer untuk Kerjasama penjualan. Katanya, “Bagaimana kalau ambo bantu menjualnya? Dititipkan saja di rumah ambo dua atau tiga mesin, siapa tahu ada murid yang tertarik. Biarlah ambo pakai satu mesin untuk mengajarkan bordir kepada murid-murid. Kalau mereka sudah pintar, tentu ada keinginan untuk membeli mesin jahit sendiri.”

Berpose di tugu Nagari Koto Gadang. (Dokpri. Ramadhan Fadli)

Berani Bersikap

Sejak awal Ruhana bertekad membawa kaum perempuan mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain secara ekonomi. Caranya, dengan mengajarkan bermacam ragam keterampilan untuk mencari nafkah sehingga bisa menunjang kebutuhan diri sendiri atau keluarga. 

Meski tak mudah dan bahkan mengalami penolakan, tapi Ruhana tak patah semangat dan meluruskan pandangan negatif masyarakat terhadap perempuan yang ingin maju, utamanya dalam bidang pendidikan.

Ruhana pun mengajarkan kaum perempuan untuk berani bersikap. Katanya, “Kalau ada perempuan yang ingin pintar, bukan berarti dia melanggar ajaran adat istiadat atau agama, apalagi takabur dan sesumbar. Yang diutamakan di sini adalah berani berpikir, bersikap, dan juga bertindak sehingga mandiri dan mempunyai kemampuan membentuk jatidiri.”

Siap Introspeksi Diri

Sisi humanis Ruhana juga patut menjadi teladan. Terutama kala ia bersikap lapang dada mengintrospeksi beberapa hal yang telah dilakukan. Termasuk, ketika Ruhana mengevaluasi diri lantaran kesedihan demi kesedihan yang menerpa hati, akibat sikap penolakan sebagian masyarakat terhadap aktivitas sekolah dan upayanya memberdayakan kaum perempuan.

Ruhana bertutur, “Apa benar kegiatan yang ambo lakukan telah merusak budi pekerti anak gadis di kampung, apalagi sampai melanggar akidah Islam? Barangkali selama ini ambo berjalan sendirian memajukan pendidikan kaum perempuan di kampung? Ya, barangkali selama ini ambo melangkah tanpa melakukan pertemuan atau minta nasihat dulu dari orangtua murid, bundo kanduang, niniak mamak, maupun ulama?”

Itulah beberapa spirit pejuangan Ruhana Kuddus yang patut dijadikan suri tauladan kaum perempuan, terutama para jurnalis perempuan.

Minimal, seperti disampaikan Jurnalis dan Pendiri Narasi Najwa Shihab, kalau memang tidak bisa mempertahankan ruangnya, minimal keberaniannya dipertahankan, dan mencari medium yang lain. 

“Seperti yang dicontohkan Ruhana. Ruangnya bisa berbeda, mediumnya bisa berganti, tapi spiritnya apakah lewat pendidikan, apakah lewat kemandirian ekonomi, ya lagi-lagi lewat bersuara melalui media. Ada banyak cara menurut saya sekarang yang bisa dilakukan, dan semua cara itu valid,” ujar Najwa.

Kini, kembali pada kita semua, siapkah kita meneruskan spirit perjuangan Ruhana? Lalu menjelma menjadi “Ruhana-Ruhana Baru” yang selalu ingin melakukan perubahan, pemberdayaan serta kemajuan. (*)

Sumber:

  1. Diskusi “3 Wajah Roehana Koeddoes : Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia”, IDN Times.
  2. Buku Biografi Roehana Koeddoes: Perempuan Menguak Dunia, Fitriyanti Dahlia, Jakarta : Yayasan d'Nanti, 2013.
  3. Buku Riwayat Hidup dan Perjuangan Ruhana Kuddus : Tokoh Perempuan yang Mendahului Zaman, Padang : UNP press Padang, 2018.
  4. Buku Roehana Koeddoes : Perintis Pers dan Pendidikan, Jakarta : Persatuan Wartawan Indonesia, 2018.
Prev Article
City of London Dikaitkan dalam Sorotan Epstein Files, Ini Penjelasannya

Related to this topic: