Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Fakta Menarik tentang Desil: Apa Itu, Manfaat, dan Sisi Negatifnya?

09 September 2026

PONTIANAK, BISNIS DAILY – Istilah desil semakin sering muncul ketika pemerintah menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai salah satu rujukan dalam menentukan sasaran berbagai program pemerintah.

Namun, masih banyak masyarakat yang menganggap desil sebagai angka yang secara langsung menunjukkan seseorang miskin atau kaya. Padahal, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa desil merupakan peringkat relatif kesejahteraan keluarga, bukan ukuran mutlak pendapatan atau kekayaan.

Apa sebenarnya desil?

Desil adalah pembagian keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya.

Secara sederhana:

  • Desil 1: kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah.
  • Desil 2: kelompok berikutnya.
  • Desil 3
  • Desil 4
  • Desil 5
  • Desil 6
  • Desil 7
  • Desil 8
  • Desil 9
  • Desil 10: kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling tinggi.

Setiap kelompok mencakup sekitar 10 persen keluarga dalam pemeringkatan. Artinya, desil 10 bukan otomatis berarti seseorang "kaya raya". Begitu pula desil 1 tidak boleh diterjemahkan hanya sebagai angka pendapatan tertentu.

Desil tidak ditentukan hanya dari gaji

Ini salah satu fakta yang paling penting.

Desil bukan sekadar menghitung berapa penghasilan seseorang.

BPS menjelaskan bahwa pemeringkatan menggunakan berbagai karakteristik sosial ekonomi secara bersama-sama. Di antaranya:

  • kondisi rumah;
  • sumber air minum;
  • bahan bakar dan energi untuk memasak;
  • daya dan konsumsi listrik;
  • kepemilikan aset;
  • jumlah dan komposisi keluarga;
  • pendidikan;
  • pekerjaan;
  • kesehatan;
  • disabilitas; dan
  • kepemilikan usaha.

Data tersebut digunakan dalam metode statistik Proxy Means Test (PMT) untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatif keluarga. Karena itu, dua keluarga dengan pendapatan yang terlihat sama belum tentu memiliki desil yang sama. Sebaliknya, keluarga yang berada dalam desil yang sama juga belum tentu mempunyai pendapatan, pengeluaran dan kondisi sosial ekonomi yang persis sama.

Apa manfaat desil?

Desil pada dasarnya dibuat untuk membantu pemerintah memetakan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan relatif. Dengan pemetaan tersebut, pemerintah memiliki basis untuk menentukan kelompok yang menjadi prioritas dalam berbagai program.

DTSEN sendiri saat ini menjadi rujukan bersama pemerintah untuk perencanaan, penetapan sasaran dan evaluasi berbagai program. Dalam konteks bantuan sosial, misalnya, laman resmi Cek Bansos Kemensos menyebut desil 1-4 dapat diusulkan sebagai sasaran PKH dan Sembako, sedangkan desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK, sesuai ketentuan program. Namun, desil bukan otomatis daftar penerima bantuan.

Ini penting: masuk desil tertentu tidak dengan sendirinya menjamin seseorang mendapatkan bantuan. Program pemerintah memiliki kriteria dan ketentuan masing-masing.

Manfaat lainnya: mengurangi salah sasaran

Salah satu tujuan utama penggunaan data terpadu adalah membuat program pemerintah lebih tepat sasaran. Sebelumnya, berbagai program dapat menggunakan sumber data yang berbeda. DTSEN dibangun dengan mengintegrasikan antara lain DTKS, P3KE dan Regsosek, kemudian diperkaya dengan data administratif lainnya dan disinkronkan dengan data kependudukan.

Dengan satu basis data yang terintegrasi, pemerintah diharapkan tidak lagi bekerja dengan gambaran kondisi masyarakat yang berbeda-beda. BPS juga menyebut pemutakhiran DTSEN dilakukan secara berkala. Per 10 Juli 2026, DTSEN versi 3 mencakup sekitar 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga.

Tetapi desil juga punya sisi negatif

Di sinilah persoalan yang menarik untuk dikritisi.

1. Desil bisa tidak menggambarkan kondisi terbaru

Kondisi ekonomi keluarga bisa berubah sangat cepat. Seseorang yang sebelumnya memiliki pekerjaan tetap dapat kehilangan pekerjaan. Pedagang yang sebelumnya ramai bisa kehilangan penghasilan. Sebaliknya, kondisi keluarga yang sebelumnya miskin bisa membaik.

Karena itu, data yang tidak diperbarui dapat menghasilkan gambaran yang tidak lagi sesuai dengan kondisi lapangan. BPS sendiri menegaskan bahwa posisi desil dapat berubah mengikuti perubahan kondisi sosial ekonomi dan posisi relatif keluarga dibandingkan keluarga lain.

2. Masyarakat bisa salah memahami angka desil

Ini persoalan yang cukup serius.

Desil 10 bukan berarti otomatis orang kaya. Desil 5 juga bukan berarti seseorang pasti miskin. Angka desil hanya menunjukkan posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan. Bahkan keluarga yang berada dalam desil yang sama tidak selalu mempunyai kondisi ekonomi yang sama.

3. Satu indikator tidak menentukan desil

Ada anggapan bahwa seseorang bisa masuk desil tinggi hanya karena memiliki rumah bagus, listrik besar atau kendaraan. BPS menegaskan bahwa penentuan desil tidak hanya berdasarkan satu indikator. Berbagai karakteristik sosial ekonomi dihitung secara bersama-sama. Jadi, memiliki kendaraan atau daya listrik tertentu tidak otomatis membuat seseorang masuk desil tinggi.

4. Data yang salah bisa berdampak pada akses program

Ini merupakan sisi paling sensitif. Ketika desil digunakan sebagai salah satu dasar penentuan sasaran program, ketidakakuratan data dapat berpengaruh terhadap siapa yang diprioritaskan dan siapa yang tidak. Karena itu, persoalan desil tidak berhenti pada angka di layar. Di belakang angka tersebut ada akses masyarakat terhadap program pemerintah.

5. Desil bersifat relatif

Ini fakta yang sering luput. Jika posisi suatu keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya berubah, desilnya juga dapat berubah, meskipun pendapatan keluarga tersebut tidak berubah drastis. Jadi, desil bukan seperti label permanen yang melekat seumur hidup.

BPS menegaskan desil bersifat dinamis dan dapat berubah seiring perubahan kondisi sosial ekonomi maupun posisi relatif keluarga. Desil merupakan alat statistik untuk membantu pemerintah melakukan pemetaan kesejahteraan. Masalahnya bukan pada keberadaan desil, melainkan pada kualitas data yang digunakan, pembaruan data, pemahaman masyarakat dan bagaimana pemerintah menggunakan hasil pemeringkatan tersebut.

Bahkan BPS menyediakan mekanisme pemutakhiran apabila masyarakat menemukan data dirinya atau keluarganya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Pembaruan dapat dilakukan melalui kanal yang tersedia, termasuk Cek Bansos, SIKS-NG melalui operator desa/kelurahan, dan kanal Cek DTSEN. Namun, pengajuan perubahan tidak otomatis membuat desil berubah, karena data harus melalui proses pemutakhiran dan penghitungan kembali. (*)

 
Prev Article
Data Desil Bermasalah, Warga Rentan Terancam Tersisih dari Bantuan

Related to this topic: