Bisnis Daily, JAKARTA - Minat investasi di rumput laut Indonesia cukup tinggi. Alasannya, saat ini banyak produsen yang mulai mengganti bahan baku menggunakan rumput laut. Misalnya, sebagai bahan baku pengganti plastik untuk produk sedotan, karena beberapa produsen mulai mengurangi penggunaan plastik dalam pembuatan sedotan.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, Indonesia memiliki ratusan jenis rumput laut, namun hanya sebagian kecil yang dibudidayakan secara komersial. Padahal, menurut Plt Direktur Jenderal (Dirjen) Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Machmud, komoditas ini memiliki prospek ekonomi tinggi dan mampu menjadi penggerak ekonomi pesisir jika dikelola dengan baik.
Rumput laut, kata dia, bahkan bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, mulai dari bahan baku pangan, kosmetik, hingga farmasi.
"Sayangnya, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk kering tanpa pengolahan lebih lanjut, sehingga nilai tambahnya belum maksimal," katanya kepada wartawan, Kamis (20/11/2025).
Diketahui, produksi rumput laut Indonesia di 2024 mencapai 8,2 juta ton, tetapi sebagian besar masih dijual langsung ke luar negeri dalam bentuk kering tanpa pengolahan bernilai tambah.
Oleh karenanya, optimalisasi rumput laut dengan cara hilirisasi perlu dilakukan agar komoditas ini bisa menjadi sumber keuntungan baru bagi Indonesia.
Tidak hanya itu, KKP akan membangun kawasan budi daya rumput laut sebagai bentuk hilirisasi komoditas laut tersebut. Rencananya, kawasan ini akan dibangun seluas 10.000 hektare (ha) yang tersebar di lima wilayah yakni Kepulauan Tanibar, Maluku Tenggara, Sumba Timur, Flores Timur, dan Gorontalo.
Fasilitas budi daya rumput laut itu bisa meningkatkan produksi rumput laut, dengan rincian produksi rumput laut basah bisa mencapai 600.000 ton per tahun, produksi rumput laut kering mencapai 60.000 ton per tahun, dan produksi karagenen mencapai 15.000 ton per tahun.
Dampak lain dari budi daya rumput laut tersebut, yaitu produktivitas rumput laut menjadi 60 ton basah per hektare meningkat, meningkatkan nilai jual rumput laut menjadi Rp 1,2 triliun per tahun, meningkatkan penyerapan tenaga kerja hingga 65.000 orang, dan pemenuhan kebutuhan industri seperti karagenan, agar-agar, alginat, dan produk turunan lainnya.