Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Modernisasi dan Digitalisasi PTP Nonpetikemas, Dorong Efisiensi dan Tekan Biaya

10 May 2026

Dalam buku ‘Manajemen Muatan Aktivitas Rantai Pasok di Area Pelabuhan’, D. A. Lasse (2020) menjelaskan, pemakaian Electronic Data Interchange (EDI) merupakan salah satu cara mengubah metode kerja tradisional berbasis kertas menjadi sistem dokumen elektronik. Metode kerja ini punya 10 karakteristik.

 

Tabel Karakteristik Metode Kerja Berbasis Dokumen Elektronik. (Sumber: Buku D.A. Lasse; Manajemen Muatan Aktivitas Rantai Pasok di Area Pelabuhan)

 


Bandingkan dengan metode kerja yang berbasis kertas. Untuk proses pengurusan barang importasi misalnya, satu dokumen utama disampaikan oleh importir kepada Bea Cukai, yakni Pemberitahuan Impor Barang (PIB). Dokumen PIB (BC 2.0) diproses untuk menentukan besarnya kewajiban importir yang bersangkutan kepada negara. Semua data sarana pengangkut maupun barang disampaikan langsung dalam bentuk fisik dokumen kertas. 

Karakteristik metode kerja konvensional seperti ini, antara lain petugas pengurus dokumen masuk dalam antrean di loket, dan pembayaran dilakukan tunai.

 

Tabel Karakteristik Metode Kerja Berbasis Kertas. (Sumber: Buku D.A. Lasse; Manajemen Muatan Aktivitas Rantai Pasok di Area Pelabuhan)

 

Penerapan EDI sudah dilaksanakan PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas). Bahkan, menjadi salah satu upaya menjaga konsistensi produktivitas, selain melakukan hubungan baik dengan para stakeholder

Acapkali pertukaran data elektronik berlangsung, manfaatnya bisa langsung dirasakan karena saling menunjang dan mempercepat penyelesaian tugas masing-masing. Misalnya, interkoneksi dengan portal INAPORTNET milik Kementerian Perhubungan yang membawa manfaat nyata bagi PTP Nonpetikemas.

“Kita musti ada konsistensi produktivitas. Konsistensi yang terjaga akan membuat kita tahu berapa lama misalnya, kapal ini akan sandar di dermaga kita. Lalu, melakukan hubungan yang baik dengan para stakeholder, seperti Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Ditjen Bea Cukai, dan Badan Karantina Indonesia. Sehingga kemudahan-kemudahan yang kita bisa sampaikan kepada teman-teman stakeholder akan membuat mereka semakin cepat melakukan pemeriksaan, penjadwalan dan sebagainya,” tutur Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani.

Lebih lanjut, Indra mengapresiasi Kemenhub yang mengoperasikan INAPORTNET. “Ini portal layanan elektronik berbasis internet yang mengintegrasikan sistem informasi kepelabuhanan, memfasilitasi pertukaran data, serta mempercepat perizinan kapal dan barang (in/out clearance) secara digital. Melalui INAPORTNET, ketika kita ingin mengajukan kegiatan bongkar/muat, kita tidak perlu datang ke Kantor KSOP di Kemenhub. Kita cukup input data kapal, barang apa yang dibongkar-muat, berapa banyak jumlahnya, siapa yang melakukan dan sebagainya. Data-data itu kemudian diperiksa oleh teman-teman di KSOP, setelah disetujui, kita bisa langsung melakukan bongkar-muat,” urainya.

 

Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani. (Foto: Screenshot Youtube PTP Nonpetikemas)

 

Gambaran efisiensi kerja dari seluruh stakeholder dengan sistem pertukaran data elektronik seperti itu sejalan dengan laporan ‘Review of Maritime Transport 2025: Staying the course in turbulent waters’ yang dirilis Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD). 

Laporan setebal 130 halaman itu menyatakan: “Efisiensi pelabuhan (port efficiency) bergantung pada pertukaran informasi dan data kolaboratif (collaborative information and data exchanges), di antara faktor-faktor inti lainnya. Pelabuhan bergantung pada penerimaan informasi terkait kapal dan pengiriman sedini mungkin sebelum kedatangan mereka. Otoritas Maritim dan Bea Cukai serta lembaga perbatasan lainnya dapat, berdasarkan hal ini, melakukan pemeriksaan dan pengendalian kepatuhan yang relevan dan efisien. Mereka dapat mempersiapkan inspeksi barang yang transit melalui pelabuhan, untuk melepaskannya agar dapat diangkut lebih lanjut dengan penundaan minimum (minimum delays).” 

Ditegaskan pula dalam laporan yang dimuat di laman UNCTAD itu: “Pertukaran informasi awal (early information exchange) mendukung pengelolaan pengiriman yang lebih efisien oleh operator pelabuhan dan badan perbatasan, yang mengurangi waktu tunggu dan waktu sandar serta membantu menghindari kemacetan (which reduces waiting and berth times and helps to avoid congestion).”

Dari sisi operasional, efisiensi pelabuhan berarti mempersingkat waktu singgah di pelabuhan dan mengurangi biaya.

PTP Nonpetikemas Wujudkan Efisiensi Pelabuhan

Seperti diketahui, PTP Nonpetikemas merupakan bagian dari Subholding Pelindo Multi Terminal (SPMT) dan memegang peranan penting dalam rantai pasok nasional. Beroperasi di 11 wilayah pelabuhan di Indonesia, PTP Nonpetikemas melayani jasa-jasa, sebagai berikut:

 

Layanan Jasa-jasa PTP Nonpetikemas. (Sumber: ptp.co.id)

 

Layanan utama PTP Nonpetikemas meliputi Dry Bulk (curah kering), Break Bulk, Liquid Bulk (curah cair), General Cargo dan Bag Cargo.

Adapun penanganan kegiatan Shorebase bertujuan mendukung kegiatan Up Stream Hulu Migas di Jakarta; Lhokseumawe-Aceh; Banyuwangi-Jawa Timur; dan Cirebon-Jawa Barat. “Kami siap melayani kegiatan Shorebase dan membuka peluang untuk kerja sama dalam bisnis penanganan kegiatan Shorebase di seluruh Indonesia,” ujar Indra.

Shorebase adalah fasilitas pusat kegiatan logistik di pinggir laut---yang umumnya terletak di area lini-1 dan lini-2 pelabuhan---, dirancang dan dioperasikan untuk mendukung kegiatan logistik industri hulu minyak dan gas bumi, termasuk eksplorasi, pengeboran, proyek konstruksi dan kegiatan produksi lepas pantai.

Transformasi Operasional Pelabuhan

Transformasi operasional yang dilaksanakan PTP Nonpetikemas sukses menambah kinclong kinerja Korporasi. Ada empat faktor utama transformasi operasional yaitu memperkuat efisiensi layanan melalui digitalisasi sistem, dan modernisasi fasilitas. Lalu, berkolaborasi dengan pemangku kepentingan, dan mengerjakan perluasan layanan terminal multipurpose untuk beragam komoditas.

Hasil transformasi itu menggembirakan. Sepanjang 2025, hasil throughput meningkat signifikan hingga 48,13 juta ton atau naik 2,81%.

 

Tabel Throughput Cabang PTP Nonpetikemas sampai dengan Desember 2025. (Sumber: ptp.co.id)

 

Realisasi tren positif terus berlanjut! Lewat akun Instagram @ptpnonpetikemas disebutkan, kinerja operasional PTP Nonpetikemas pada triwulan I 2026 masih tetap terjaga. Padahal, situasi rantai pasokan global tengah menghadapi ketidakpastian baru, ketegangan geopolitik, pergeseran kebijakan perdagangan, dan ketidakseimbangan penawaran dengan permintaan. 

Total throughput tercatat 12,84 juta ton. Rinciannya, curah kering mendominasi dengan porsi 46 persen, curah cair 25 persen, General Cargo 24 persen dan Bag Cargo 5 persen. 

Realisasi curah cair ini mencapai 3,09 juta ton (tumbuh 16 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan 2,67 juta ton. Capaian ini menunjukkan kinerja mentereng Perusahaan, karena berhasil melampaui 23 persen dari target 2026 yaitu 2,52 juta ton.

Sementara itu, curah kering sebagai tulang punggung operasional tercatat sebanyak 5,76 juta ton atau meningkat dibandingkan 2025 serta selaras dengan target yang ditetapkan.

Segmen lainnya, General Cargo tercatat mencapai 2,92 juta, dan Bag Cargo meraih 656 ribu ton atau turun tipis 3,3 persen secara tahunan.

 

Tabel Throughput Cabang PTP Nonpetikemas Triwulan I 2026. (Sumber: Instagram @ptpnonpetikemas)

 

Laman resmi Korporasi menjelaskan, transformasi operasional Pelabuhan di lingkungan PTP Nonpetikemas mencakup enam pilar yaitu Proses Bisnis, Peralatan, Infrastruktur dan Fasilitas, Teknologi, Sumber Daya Manusia (SDM), dan HSSE (Health, Safety, Security, and Environment).

Inovasi PTOS-M

PTP Nonpetikemas melaksanakan sejumlah inovasi demi meningkatkan terus efisiensi operasional Pelabuhan. Diantaranya, menerapkan sistem digital bernama Pelindo Terminal Operating System–Multipurpose (PTOS-M). Sistem ini membuat proses bongkar-muat lebih cepat, transparan dan minim hambatan. Alhasil, waktu sandar kapal (berthing time) bisa ditekan sehingga efisiensi operasional pun otomatis meningkat.

“Kita meluncurkan PTOS-M pada September 2023. Dengan PTOS-M, bukan cuma kita yang bisa melihat, tapi ada dashboard yang bisa kita berikan kepada Pelanggan, kepada Pemilik barang, termasuk kepada Pelayaran. Di satu sisi, Pelindo sendiri sudah punya PHINNISI, aplikasi khusus untuk Pelayanan Kapal. Jadi semuanya terintegrasi. Dan, di setiap cabang, kita memiliki P&C atau Planning and Control. Dimana salah satu P&C ada di Cabang Tanjung Priok. Semua terkontrol dan benar-benar secara real-time. Sehingga kita bisa melakukan kegiatan bongkar-muat secara cepat. Ini sesuai arahan Pimpinan yang menginstruksikan agar port-time semakin singkat. Ini yang selalu kita upayakan dan kita sajikan untuk pelanggan,” jelas Indra.

Adapun PHINNISI (Vessel Management System) merupakan platform operasi layanan kapal berbasis digital yang modern, terintegrasi dan juga real-time. Platform ini terpadu dan menyatukan seluruh proses layanan kapal dalam satu sistem operasional, mulai dari Order-to-Cash hingga Record-to-Report. Disini, pengajuan, penjadwalan, realisasi kegiatan, hingga pelaporan dan pembayaran dapat dikelola hanya melalui satu pintu. PHINNISI juga terintegrasi dengan INAPORTNET.

 

Tabel Enam Pilar Transformasi Operasional Pelabuhan PTP Nonpetikemas. (Sumber: ptp.co.id)

 

Pengoperasian PTOS-M merupakan elemen kunci sesuai Pilar Teknologi pada Transformasi Operasional Pelabuhan di lingkungan PTP Nonpetikemas. Sebagai salah satu inovasi Digitalisasi Operasional Pelabuhan, PTOS-M terbukti berhasil memperkuat posisi Perusahaan dengan mempermudah pengawasan kegiatan bongkar-muat dan seluruh proses bisnis.

Penerapan PTOS-M berhasil meningkatkan produktivitas bongkar-muat TSD (Ton/Ship/Day) dan efisiensi operasional di berbagai terminal, seperti mengurangi idle time (waktu ketika aset, tenaga kerja, mesin, atau sistem tidak digunakan secara produktif meskipun tetap aktif secara operasional). PTOS-M juga semakin mengoptimalkan manajemen kargo curah cair, curah kering dan kargo umum. 

Implementasi PTOS-M juga menjadi inovasi dari Pilar Proses Bisnis. Disini, PTOS-M menghadirkan standar pelayanan yang konsisten, seragam, lebih efektif dan terukur di setiap cabang PTP Nonpetikemas.

Dirut PTP Nonpetikemas menerangkan, implementasi PTOS-M menghadirkan standar pelayanan Korporasi di setiap cabang menjadi lebih efektif dan terukur. 

“Sistem ini mengintegrasikan operasi terminal berbasis Planning & Control, dengan fitur layanan mulai dari perencanaan, pengendalian real-time dari Pre-Berthing hingga Post-Berthing, lalu tracking & tracing, yang meminimalkan kesalahan manusia dan meningkatkan validitas serta kecepatan layanan,” terang Indra.

 

PTP Nonpetikemas mengoperasikan terminal berbasis Planning & Control. (Foto: ptp.co.id)

 

Selain terhubung dengan INAPORTNET, PTOS-M juga terkoneksi dengan NLE yang memudahkan pertukaran data dan pemantauan secara real-time. PTOS-M juga dilengkapi fitur analisis data untuk mempermudah penelusuran dan analisis kinerja operasional. Adapun NLE itu sendiri adalah National Logistics Ecosystem yang merupakan program terobosan pemerintah untuk memastikan kelancaran pergerakan arus barang ekspor dan impor, maupun pergerakan arus barang domestik, baik antardaerah dalam satu pulau maupun antarpulau. 

“PTP Nonpetikemas juga telah mengadopsi layanan 24 jam yang memungkinkan pelanggan mengakses layanan tanpa harus datang secara fisik. Layanan ini diharapkan dapat memberikan kemudahan dan kecepatan bagi seluruh pelanggan dalam melakukan transaksi dan urusan bisnis lainnya,” urai Indra.

Bagaimana respons pelanggan terhadap efektivitas PTOS-M? Salah satu pelanggan PTP Nonpetikemas, Liana selaku Manager PT Musimas Palembang menyampaikan pengalamannya menggunakan layanan PTOS-M. 

“Kami mengapresiasi PTP Nonpetikemas karena memberikan pelayanan terbaik untuk kami. Dengan adanya transformasi dan layanan PTOS-M, kami bisa melakulan permohonan dan layanan secara online, cepat dan real-time,” aku Liana.

Efektivitas sistem digital PTOS-M terbukti berhasil meningkatkan daya saing dan efisiensi di seluruh terminal yang dikelola PTP Nonpetikemas. Dimana setiap cabang memiliki komoditas unggulan yang jadi andalan, misalnya:

Cabang Tanjung Priok: Tingkatkan Layanan Multipurpose

Laman Perusahaan menyebutkan, PTP Nonpetikemas Cabang Tanjung Priok kembali mempertegas posisinya sebagai penggerak utama terminal multipurpose nasional. Hingga Desember 2025, throughput yang dibukukan 16,19 juta ton, melampaui target RKAP periode yang sama sebesar 14,29 juta ton dengan tingkat pencapaian 113%.

 

Aktivitas Pelabuhan di PTP Nonpetikemas Cabang Tanjung Priok. (Foto: ptp.co.id)

 

Lonjakan fantastis ini utamanya ditopang dominasi layanan General Cargo (9,22 juta ton), peningkatan komoditas Curah Kering (4,85 juta ton), Curah Cair (1,45 juta ton) dan Bag Cargo (647,7 ribu ton). 

Indra menegaskan, Cabang Tanjung Priok merupakan fondasi utama pencapaian throughput nasional. “Kami terus meningkatkan layanan multipurpose melalui optimalisasi produktivitas, penerapan sistem digital PTOS-M dan pemutakhiran fasilitas. Didukung SDM yang tersertifikasi, kami yakin Tanjung Priok akan terus menjadi rujukan operasional di industri kepelabuhanan,” tegasnya.

Cabang Tanjung Priok juga mencatat perbaikan signifikan dalam produktivitas bongkar-muat, yang berkontribusi pada capaian kinerja PTP Nonpetikemas. Ini sejalan dengan komitmen Perusahaan untuk menyediakan layanan efisien, aman dan kompetitif. Sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui Pelabuhan Tanjung Priok sebagai simpul utama distribusi logistik.

PTP Nonpetikemas Cabang Tanjung Priok menangani beragam komoditas, mulai dari curah kering, curah cair, hingga General Cargo. Untuk curah kering, komoditas yang dilayani antara lain pasir, semen, gula, sulfur, dan garam. Pada curah cair, layanan meliputi minyak kelapa sawit mentah atau CPO, RBD Olein, RBD Stearin, hingga PFAD (Palm Fatty Acid Distillate). Adapun untuk General Cargo, komoditas yang ditangani mencakup gypsum, scrap iron, plywood, coil, kendaraan, heavy equipment, produk baja, dan lainnya.

Cabang Palembang: Dukung Rantai Pasok Nasional

Cabang ini, pada triwulan I 2026, merealisasikan produktivitas bongkar-muat yang mencapai angka menggembirakan. Tercatat, pertumbuhan 3% terjadi pada kemasan General Cargo dari 1.500 TSD menjadi 1.544 TSD. Lalu, pertumbuhan 1% pada kemasan curah cair dari 2.815 TSD menjadi 2.842 TSD. Disusul Bag Cargo sebesar 876 TSD dan 1.297 TSD untuk kemasan curah kering.

 

Aktivitas Pelabuhan di PTP Nonpetikemas Cabang Palembang. (Foto: ptp.co.id)

 

PTP Nonpetikemas Cabang Palembang pun terus memperkuat perannya dalam mendukung kelancaran rantai pasok industri pupuk nasional melalui layanan bongkar-muat yang andal dan terintegrasi di Sumatera Selatan. 

Cabang Pontianak: Simpul Logistik Internasional

Kehadiran Terminal Kijing di Mempawah yang dikelola PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak menjadi urat nadi ekonomi Kalimantan Barat. Kontribusinya signifikan terhadap efisiensi logistik dan kelancaran arus barang nasional. Terminal Kijing menjadi salah satu simpul logistik internasional strategis, karena berbatasan langsung dengan jalur perdagangan utama Selat Malaka.

“Kalimantan Barat dikenal sebagai salah satu produsen utama minyak kelapa sawit nasional, berada di peringkat tiga besar provinsi penghasil CPO. Tak kurang dari 84 perkebunan kelapa sawit, 132 perusahaan industri CPO, dan 42 terminal khusus mendukung ekosistem komoditas ini di wilayah tersebut, sehingga Terminal Kijing menjadi urat nadi ekonomi Kalbar,” kata Indra.

Terminal Kijing juga menjadi pintu gerbang ekspor utama untuk produk turunan kelapa sawit, didukung sarana bongkar-muat modern seperti harbour mobile crane, excavator, wheel loader, mobile conveyor, flexible hose, dan portable filling station. Sejumlah komoditas lain seperti batubara, pupuk, palm kernel, bauksit, dan kargo berat ikut jadi bagian dari layanan terminal ini. 

Dengan infrastruktur modern dan fasilitas bongkar-muat yang mumpuni, Terminal Kijing kian memainkan peran penting mendukung arus barang, khususnya untuk proyek-proyek infrastruktur di wilayah Barat Indonesia. Tak hanya mendorong ekspor, Kijing---yang diresmikan pada 9 Agustus 2022---juga menjadi bagian penting guna menjaga ketahanan rantai pasok nasional.

 

Aktivitas Pelabuhan di PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak. (Foto: ptp.co.id)

 

“Sebagai pelabuhan internasional baru di Kalimantan Barat, Terminal Kijing diposisikan menjadi motor penggerak ekspor-impor kawasan sekaligus katalisator pertumbuhan ekonomi nasional. Kedepan, pelabuhan ini disiapkan untuk mendukung program hilirisasi yang tengah digencarkan pemerintah, serta melayani berbagai macam kargo, baik nonpetikemas maupun petikemas guna memperkuat rantai pasok, khususnya di wilayah Barat Indonesia,” terang Indra dikutip laman ptp.co.id.

Kinerja Terminal Kijing pun terus menunjukkan peningkatan signifikan. Throughput melonjak dari 1,95 juta ton pada 2023 menjadi 2,75 juta ton pada 2024, dan proyeksi menembus 4 juta ton pada 2025. Hingga November 2025, total throughput mencapai 3,59 juta ton, didominasi curah kering sebesar 2,03 juta ton. 

Beberapa komoditas yang ditangani merupakan barang milik Mining Industry Indonesia (MIND ID) Group, khususnya PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), dalam mendukung pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN). Adapun komoditas tersebut meliputi bauksit, batubara, dan aluminium hidroksida sebagai muatan curah kering; caustic soda liquid sebagai muatan curah cair; serta aluminium hidroksida yang ditangani sebagai General Cargo.

Di cabang lain, komoditas unggulan bervariasi, mulai dari hasil bumi, bahan baku industri, hingga komoditas ekspor lainnya. Semua operasional ini dikelola dengan standarisasi yang tinggi untuk memastikan kecepatan dan ketepatan layananan sebagai bagian dari layanan mata rantai logistik.

Cabang Banten: Efisiensi Waktu dan Biaya Logistik

Cabang ini terletak di Banten yang meliputi wilayah kerja di Pelabuhan Ciwandan Banten dan Bojonegara. Layanannya, berbagai macam komoditi curah kering, curah cair, dan General Cargo. Komoditi curah kering antara lain gandum, batubara, nikel ore, semen, gypsum, dan cangkang. Komoditi curah cair antara lain aspal cair, HSD, methanol, paraxylene, sulfur. Sedangkan untuk General Cargo, komoditi yang ditangani adalah heavy equipment, steel structure, Bag Cargo dan sebagainya.

 

Aktivitas Pelabuhan di PTP Nonpetikemas Cabang Banten. (Foto: ptp.co.id)

 

PTP Nonpetikemas Cabang Banten juga terus menunjukkan kinerja operasional cemerlang dengan produktivitas bongkar-muat yang kompetitif dan berkontribusi strategis dalam mendukung kelancaran arus logistik nasional. 

Cabang ini memiliki peran krusial guna mendukung aktivitas logistik di wilayah Barat Pulau Jawa. Kedekatannya dengan Kawasan industri serta akses ke jalur distribusi utama menjadikan cabang ini memiliki keunggulan dalam efisiensi waktu dan biaya logistik.

Cabang ini mencatatkan capaian produktivitas pada 2025 dengan menjadi yang tertinggi kedua setelah Cabang Tanjung Priok pada kemasan General Cargo, dan pada kemasan curah cair juga meraih posisi kedua setelah Cabang Teluk Bayur. Pada kemasan General Cargo sebesar 2.741 TSD, curah kering 4.410 TSD, curah cair 3.573 TSD, dan bag cargo 1.070 TSD. Ini membuktikan tingginya efisiensi dalam proses bongkar-muat serta optimalisasi pemanfaatan fasilitas pelabuhan.

Pada triwulan I 2026, capaian throughput Cabang Banten menunjukkan angka memuaskan hingga 923,78 ribu ton dengan distribusi kemasan diantaranya 631,26 ribu ton curah kering, 124,67 ribu ton curah cair, 158,69 ribu ton General Cargo, dan 9,15 ribu ton Bag Cargo.

Dibandingkan tahun sebelumnya, tren produktivitas Cabang Banten menunjukkan peningkatan positif. Ini sejalan dengan implementasi standarisasi operasional dan sistemisasi layanan berbasis digital yakni platform PTOS-M. 

Modernisasi Layanan dan Solusi Digital

Tak hanya sistem digital yang memberi solusi layanan terbaik dan memuaskan pelanggan, PTP Nonpetikemas juga melakukan modernisasi alat bongkar-muat guna meningkatkan produktivitas. Selain itu, dilakukan pula perbaikan dan pengembangan dermaga serta fasilitas terminal.

 

Aktivitas Pelabuhan di PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur. (Foto: ptp.co.id)

 

Salah satunya dilakukan oleh PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat yang mengimplementasikan elektrifikasi alat bongkar-muat utama berupa tiga unit Gantry Jib Crane. Hal ini mendukung penggunaan teknologi ramah lingkungan.

Begitu juga dengan PTP Nonpetikemas Cabang Pangkal Balam, Pangkalpinang, Pulau Bangka yang mengoptimalkan layanan curah cair, khususnya CPO, dan akan terus menjadi fokus utama Perusahaan seiring besarnya potensi komoditas sawit di wilayah Bangka Belitung. Untuk itu, berbagai inovasi operasional dilakukan untuk memastikan proses bongkar-muat berjalan lebih efisien, aman dan berkelanjutan.

Salah satunya penerapan sistem portable drop tank yang dilengkapi pompa submersible untuk penanganan CPO. Inovasi ini mampu meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan serta meningkatkan kapasitas pompa secara optimal.

Selain itu, penerapan sistem truck losing memungkinkan pelayanan hingga empat truk secara bersamaan. Dari sisi keselamatan dan lingkungan, PTP Nonpetikemas Cabang Pangkal Balam juga telah dilengkapi dengan sistem penanganan tumpahan minyak (oil spill response) berupa oil boom, bahan pengurai, serta kapal penunjang.

Kedepan, PTP Nonpetikemas Cabang Pangkal Balam tengah menyiapkan inovasi tambahan berupa tudung drop tank agar kegiatan pemuatan tetap dapat berlangsung saat hujan. Dengan rata-rata curah hujan mencapai 12 hari per bulan, inovasi ini diproyeksikan dapat meningkatkan kapasitas pemuatan hingga 5.280 ton per bulan.

 

Aktivitas Pelabuhan di PTP Nonpetikemas Cabang Pangkal Balam. (Foto: ptp.co.id)

 

Modernisasi dan Solusi Digital yang dilaksanakan sesuai dengan enam pilar transformasi operasional PTP Nonpetikemas, antara lain pilar Proses Bisnis, Peralatan, Teknologi, dan Infrastruktur dan Fasilitas. 

Semua yang telah dilakukan PTP Nonpetikemas itu ternyata senafas dengan tuntutan dunia maritim global. Misalnya Badan PBB UNCTAD yang menyerukan ‘10 Actions for a Sustainable and Resilient Maritime Transport’. Dua ‘Aksi’ diantaranya adalah: mendorong modernisasi sekaligus praktik bisnis berkelanjutan, dan memanfaatkan solusi digital.

Selain UNCTAD, proses Digitalisasi juga diingatkan Organisasi Maritim Internasional (IMO) sebagai bahagian dari transformasi operasional. Sebagai catatan, Indonesia bergabung dengan IMO sejak 1961.

Dalam pertemuan di London, akhir Maret 2026 lalu, Komite IMO menyebutkan, strategi Digitalisasi menekankan interoperabilitas, standardisasi sistem, berbagi data, dan tata kelola data yang efektif di seluruh organisasi dan yurisdiksi. Tujuannya, antara lain untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban administratif. 

Strategi Digitalisasi ini juga menggunakan data untuk meningkatkan keselamatan navigasi dan memperkuat kinerja lingkungan kapal, mempromosikan sistem yang berpusat pada manusia yang tangguh terhadap gangguan, ancaman siber, dan tantangan lingkungan.

Disinilah, PTP Nonpetikemas membuktikan, kebijakan modernisasi dan sistem digital yang terus dikembangkannya ternyata seturut dengan tuntutan masa depan serta kebijakan global. (*)

Prev Article
UMK Binaan Pelindo Merangkai Asa Go Global

Related to this topic: