BISNIS DAILY, PONTIANAK — Dunia kampus lagi bersiap menghadapi perubahan besar. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia tegas bakal menyisir program studi (prodi) yang dinilai sudah tidak relevan dengan kebutuhan industri.
Bukan sekadar wacana, sejumlah prodi bahkan berpotensi ditutup atau dihentikan penerimaan mahasiswanya jika dianggap kelebihan lulusan alias oversupply dan minim serapan kerja.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco, blak-blakan soal arah kebijakan ini. Menurutnya, prodi tidak bisa lagi dibiarkan berjalan tanpa melihat kebutuhan nyata di lapangan.
“Perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” tegasnya.
Realitanya, saat ini banyak lulusan sarjana yang justru menganggur atau bekerja tidak sesuai bidang. Di sisi lain, industri malah kekurangan tenaga dengan skill spesifik. Ketimpangan ini yang mau “dipotong” pemerintah.
Nggak main-main, pemerintah kini mengunci fokus ke 8 sektor strategis nasional yang dianggap paling menjanjikan ke depan. Mulai dari kesehatan, ketahanan pangan, digital dan teknologi tinggi, hilirisasi industri, pertahanan, manufaktur dan material maju, energi, hingga maritim.
Artinya jelas: kampus yang tidak ikut arah ini, siap-siap ditinggal.
Namun, pemerintah memastikan mahasiswa yang sudah terlanjur kuliah tidak perlu panik. Kebijakan ini tidak berlaku mendadak. Penutupan prodi akan dilakukan bertahap, biasanya lewat penghentian mahasiswa baru, bukan langsung membubarkan kelas yang sudah berjalan.
Meski begitu, kebijakan ini tetap memancing pro dan kontra. Di satu sisi, langkah ini dinilai realistis untuk menekan pengangguran lulusan kampus. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran pendidikan tinggi jadi terlalu “ikut pasar” dan kehilangan peran sebagai pengembang ilmu pengetahuan.
Yang jelas, arah baru ini jadi sinyal keras: dunia kampus tidak bisa lagi jalan sendiri. Kalau tidak adaptif dengan kebutuhan industri, bukan tidak mungkin sebuah prodi bakal benar-benar “tutup buku”. (*)