Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Semua Serba Mahal, UMKM Dipaksa Pintar Bertahan

30 April 2026

BISNIS DAILY, PONTIANAK — Di tengah kondisi ekonomi yang makin menekan, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini menghadapi situasi yang tidak mudah. Harga bahan baku naik, biaya operasional ikut terdorong, sementara daya beli masyarakat justru cenderung melemah.

Kondisi “serba mahal” ini membuat banyak pelaku usaha harus putar otak agar tetap bertahan. Tidak sedikit yang mengaku margin keuntungan semakin menipis, bahkan ada yang terpaksa menekan kualitas atau mengurangi porsi demi menjaga harga tetap terjangkau.

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies, Bima Yudhistira, menilai tekanan terhadap UMKM saat ini datang dari dua arah sekaligus.

“Biaya produksi naik karena bahan baku mahal, tapi di sisi lain mereka tidak bisa sembarangan menaikkan harga karena daya beli masyarakat terbatas,” ujarnya.

Naikkan Harga Salah, Nggak Naik Juga Tertekan

Dilema ini jadi kenyataan sehari-hari bagi pelaku UMKM. Ketika harga dinaikkan, risiko kehilangan pelanggan cukup besar. Tapi kalau harga dipertahankan, keuntungan makin tipis.

Banyak pelaku usaha akhirnya mengambil jalan tengah:

  • mengecilkan ukuran produk
  • mengurangi varian
  • mencari bahan baku alternatif yang lebih murah

Namun langkah ini tentu tidak bisa dilakukan terus-menerus tanpa berdampak pada kualitas.

Pembeli Makin Selektif

Di sisi lain, perilaku konsumen juga ikut berubah. Masyarakat kini lebih berhitung dalam membelanjakan uangnya. Produk yang dianggap tidak terlalu penting mulai ditinggalkan, sementara kebutuhan dasar tetap jadi prioritas.

Hal ini membuat persaingan antar pelaku UMKM semakin ketat. Hanya yang mampu menawarkan harga terjangkau dengan kualitas yang masih bisa diterima yang bertahan.

Digital Jadi Penyelamat, Tapi Nggak Mudah

Sebagian UMKM mencoba bertahan dengan beralih ke penjualan online. Platform digital dan media sosial dimanfaatkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas tanpa biaya besar.

Namun, tidak semua pelaku usaha bisa langsung beradaptasi. Persaingan di dunia digital juga tidak kalah ketat, bahkan seringkali membutuhkan strategi pemasaran yang lebih kreatif.

Di tengah kondisi serba mahal, UMKM berada dalam posisi yang cukup terjepit. Di satu sisi biaya terus naik, di sisi lain ruang untuk menaikkan harga sangat terbatas.

Meski demikian, UMKM dikenal sebagai sektor yang paling tangguh dalam menghadapi krisis. Dengan kemampuan beradaptasi dan kreativitas yang tinggi, peluang untuk bertahan tetap ada—meski jalannya tidak mudah.

Pada akhirnya, nasib UMKM hari ini bukan hanya soal bertahan, tapi juga tentang bagaimana mereka bisa terus berinovasi di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah. (*)

 
Prev Article
Prodi “Nggak Laku” Siap-Siap Ditutup, Kampus Diminta Ikut Arah Industri
Next Article
The Rise of AI-Powered Personal Assistants: How They Manage

Related to this topic: