BISNIS DAILY, PONTIANAK - — Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) saat ini sedang berada di posisi yang serba sulit. Di tengah harga bahan baku yang terus naik dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, banyak pelaku usaha dihadapkan pada dilema: menaikkan harga atau bertahan dengan risiko merugi.
Kondisi “serba mahal” ini membuat ruang gerak UMKM semakin sempit. Mulai dari bahan baku, biaya produksi, hingga distribusi mengalami kenaikan. Namun di sisi lain, konsumen justru semakin selektif dalam membelanjakan uangnya.
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies, Bima Yudhistira, menilai tekanan yang dihadapi UMKM saat ini datang dari dua arah sekaligus.
“Biaya produksi naik, tapi mereka tidak leluasa menaikkan harga karena daya beli masyarakat terbatas. Ini yang membuat margin mereka semakin tertekan,” ujarnya.
Harga Naik, Pelanggan Pergi
Bagi sebagian pelaku UMKM, menaikkan harga bukan pilihan mudah. Kenaikan harga sekecil apa pun bisa berdampak langsung pada jumlah pembeli.
Banyak konsumen kini mulai beralih ke produk yang lebih murah atau bahkan mengurangi konsumsi. Akibatnya, pelaku usaha harus berpikir ulang sebelum menyesuaikan harga.
Bertahan Tanpa Naikkan Harga, Margin Menipis
Di sisi lain, mempertahankan harga juga bukan solusi jangka panjang. Biaya yang terus naik membuat keuntungan semakin tipis, bahkan tidak sedikit yang mulai mengalami kerugian.
Beberapa pelaku usaha akhirnya melakukan berbagai cara untuk bertahan:
- mengecilkan ukuran produk
- mengurangi variasi menu atau barang
- mencari bahan baku alternatif yang lebih murah
Namun langkah ini seringkali berdampak pada kualitas, yang pada akhirnya juga bisa memengaruhi kepercayaan pelanggan.
Konsumen Makin Rasional
Perubahan perilaku konsumen juga menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, pembeli cenderung lebih berhitung dan mengutamakan kebutuhan utama.
Produk yang sebelumnya dianggap “tambahan” mulai ditinggalkan. Hal ini membuat persaingan antar pelaku UMKM semakin ketat, karena semua berebut pasar yang sama.
Dilema yang dihadapi UMKM saat ini mencerminkan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Di satu sisi biaya terus meningkat, di sisi lain daya beli belum pulih.
Namun di tengah tekanan tersebut, UMKM tetap dituntut untuk bertahan dan beradaptasi. Kreativitas dalam mengelola biaya, menjaga kualitas, serta memahami kebutuhan pasar menjadi kunci utama.
Karena di situasi seperti sekarang, bukan hanya soal bertahan, tapi juga soal bagaimana tetap relevan di tengah perubahan yang terus terjadi. (*)