Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Peluang 10 Juta Lapangan Kerja Hijau Terbuka, Kesiapan SDM Jadi Tantangan

30 April 2026

BISNIS DAILY, PONTIANAK — Peluang kerja di sektor energi terbarukan di Indonesia ternyata nggak main-main. Studi terbaru dari Koaksi Indonesia mengungkap, potensi green jobs di Tanah Air bisa tembus hingga 6,31 juta sampai 10,19 juta lapangan kerja pada tahun 2060.

Angka fantastis ini didorong oleh pesatnya pengembangan energi bersih, terutama dari tenaga surya dan tenaga air yang diprediksi jadi penyumbang terbesar lapangan kerja baru.

Dalam laporan berjudul Kesiapan Pasar Tenaga Kerja dalam Pengembangan Green Jobs di Sektor Energi Terbarukan, disebutkan bahwa lonjakan kapasitas pembangkit listrik nasional bisa mencapai 474 GW hingga 687 GW pada 2060. Artinya, kebutuhan tenaga kerja juga bakal ikut melonjak.

Penulis utama studi, Azis Kurniawan, menjelaskan bahwa tren global yang mulai meninggalkan energi fosil jadi salah satu pemicu utama.

“Transisi menuju energi bersih membuka peluang besar penciptaan green jobs di Indonesia,” ujarnya.

Namun, di balik peluang besar itu, ada tantangan serius yang nggak bisa diabaikan. Salah satu temuan utama adalah fenomena unik: tenaga kerja sebenarnya ada, tapi sulit direkrut.

Banyak lulusan pendidikan formal dinilai belum siap masuk industri karena kurangnya keterampilan teknis yang mendalam dan minim pengalaman lapangan.

“Industri kesulitan mencari tenaga spesialis karena keterbatasan pengalaman praktis dan sertifikasi yang masih minim,” tambah Azis.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ahmad Khulaemi dari Kementerian ESDM, yang menyebut pihaknya tengah menyiapkan berbagai program untuk menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan, termasuk penyusunan job profile dan pelatihan bagi anak muda.

Masalah lain juga muncul dari sisi keadilan dan inklusivitas. Studi ini menemukan bahwa keterlibatan perempuan di sektor ini masih di bawah 15 persen, sementara tenaga kerja disabilitas juga belum terserap optimal.

Ketua Federasi Pertambangan dan Energi KSBSI, Nikasi Ginting, menyoroti kesiapan pekerja dalam menghadapi transisi energi.

“Buruh sebenarnya menyambut baik green jobs, tapi belum siap sepenuhnya. Banyak pekerja tambang yang kehilangan pekerjaan belum bisa beralih karena keterbatasan skill,” ujarnya.

Sementara itu, peneliti Muhammad Fadhil Firjatullah menilai peluang kerja bisa lebih luas jika pemerintah juga fokus pada rantai pasok industri, mulai dari manufaktur hingga operasional dan perawatan.

Melihat kondisi ini, Koaksi Indonesia memberikan sejumlah rekomendasi. Mulai dari pembaruan sistem data ketenagakerjaan, penguatan pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industri, hingga kebijakan yang menjamin transisi energi berjalan adil dan inklusif.

Intinya, transisi energi bukan cuma soal ganti sumber listrik dari fosil ke terbarukan. Lebih dari itu, ini adalah peluang besar untuk menciptakan jutaan lapangan kerja baru—asal dibarengi kesiapan tenaga kerja dan kebijakan yang tepat. Kalau tidak, potensi besar ini bisa saja lewat begitu saja tanpa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. (*)

Prev Article
Pelaku UMKM Kini Bisa Punya Rumah, Syaratnya Ringan Tanpa Slip Gaji!

Related to this topic: