BISNIS DAILY, PONTIANAK — Program KPR tanpa slip gaji kini benar-benar jadi kabar baik buat pelaku UMKM dan pekerja sektor informal. Lewat skema KPR Sejahtera yang digelar Bank Central Asia bersama Vista Land Group, masyarakat dengan penghasilan tidak tetap kini punya peluang lebih besar untuk memiliki rumah sendiri.
Hal ini terlihat dalam kegiatan akad massal yang dihadiri Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, di Perumahan Puri Harmoni Indah, Serang. Sebanyak 51 unit rumah berhasil diakadkan, tersebar di Serang, Cileungsi (Bogor), dan Tangerang.
Program ini secara khusus menyasar masyarakat yang selama ini sering kesulitan mengakses KPR, terutama karena tidak memiliki slip gaji atau penghasilan tetap. Dengan skema yang lebih fleksibel, mereka tetap bisa mengajukan pembiayaan rumah dengan bunga ringan sekitar 5 persen dan uang muka hanya 1 persen.
Menteri Ara menegaskan, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah agar kepemilikan rumah tidak hanya dinikmati oleh pekerja formal saja.
“Sekarang masyarakat dengan penghasilan non fixed, seperti pelaku UMKM dan pekerja informal, juga harus punya kesempatan yang sama untuk memiliki rumah,” ujarnya.
Dari sisi perbankan, Direktur Utama BCA, Hendra Lembong, menyebut program ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap target pembangunan perumahan nasional. BCA bahkan menyalurkan pembiayaan dengan skema mirip KPR subsidi agar cicilan tetap terjangkau.
Kolaborasi dengan pengembang juga jadi kunci. Vista Land Group disebut telah membangun ribuan unit rumah dan terus menghadirkan hunian layak dengan harga yang masih ramah di kantong masyarakat.
Dampak program ini langsung dirasakan masyarakat. Syahria, seorang pedagang warung, kini bisa memiliki rumah sendiri meski tanpa penghasilan tetap. Sebelumnya, ia tinggal bersama orang tuanya bersama dua anaknya.
“Saya bersyukur sekali, ternyata tetap bisa punya rumah walaupun tidak punya slip gaji. Prosesnya juga tidak ribet,” katanya.
Cerita serupa datang dari Rifky, pelaku usaha odong-odong. Ia mengaku awalnya ragu, namun akhirnya berhasil mengajukan KPR dan kini mencicil sekitar Rp1,3 juta per bulan.
“Sekarang lebih tenang, sudah punya rumah sendiri. Cicilannya juga masih masuk,” ujarnya.
Melalui program ini, pemerintah bersama perbankan dan pengembang menunjukkan bahwa akses kepemilikan rumah kini semakin inklusif. Tidak hanya pekerja dengan gaji tetap, tetapi juga pelaku UMKM dan sektor informal kini punya peluang nyata untuk memiliki hunian yang layak. (*)