BISNSI DAILY, PONTIANAK - Istilah Lipstick Effect adalah fenomena ketika masyarakat tetap membeli barang-barang kecil yang memberi rasa senang atau “kemewahan terjangkau” di tengah kondisi ekonomi sulit atau krisis.
Istilah ini muncul karena saat daya beli menurun, orang cenderung menahan pembelian besar seperti mobil, rumah, atau gadget mahal, tetapi tetap membeli produk kecil seperti lipstik, skincare, kopi kekinian, parfum mini, makanan manis, atau hiburan murah untuk menjaga mood dan rasa percaya diri.
Contoh sederhana
Saat ekonomi lesu:
- orang menunda beli motor baru,
- tapi masih membeli:
- lipstik Rp50 ribu,
- es kopi,
- skincare,
- dessert,
- parfum kecil,
- outfit murah,
- langganan hiburan.
Karena barang itu dianggap:
- masih terjangkau,
- memberi efek “healing”,
- meningkatkan rasa percaya diri,
- menjadi pelarian stres.
Kenapa fenomena ini terjadi?
Secara psikologis, ketika kondisi ekonomi membuat orang cemas, mereka mencari “kebahagiaan kecil” yang tetap bisa dibeli tanpa menguras uang terlalu besar.
Makanya saat krisis:
- produk premium mahal bisa turun,
- tetapi kosmetik, makanan ringan, kopi, skincare, dan hiburan murah justru tetap ramai.
Di Indonesia sekarang?
Fenomena lipstick effect sering dikaitkan dengan:
- ramainya coffee shop,
- skincare dan parfum lokal,
- live shopping,
- jastip,
- produk self reward,
- wisata murah,
- kuliner viral,
- konser,
- hingga paylater konsumtif.
Meski ekonomi sedang berat, konsumsi kecil yang bersifat emosional tetap berjalan.
Dampak bagi UMKM
Fenomena ini justru bisa jadi peluang untuk UMKM, terutama yang bergerak di:
- kuliner,
- kosmetik,
- fashion murah,
- hampers,
- aksesoris,
- minuman kekinian,
- produk self-care.
Karena konsumen cenderung mencari produk:
- murah,
- estetik,
- memberi pengalaman menyenangkan,
- dan mudah dibeli impulsif. (*)