BISNIS DAILY, PONTIANAK — Pasar properti nasional lagi nggak baik-baik aja. Di tengah melemahnya rupiah dan tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya reda, cara orang membeli rumah pun ikut berubah.
Kalau dulu beli properti identik dengan gaya hidup dan prestise, sekarang ceritanya beda. Masyarakat makin realistis. Bukan lagi soal rumah mewah atau lokasi hits, tapi lebih ke: “ini kebeli nggak?” dan “bisa menghasilkan nggak?”
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies, Bima Yudhistira, menyebut kondisi ini sebagai efek kombinasi tekanan global dan domestik.
“Rupiah melemah bikin biaya konstruksi naik, sementara daya beli masyarakat belum kuat. Jadi wajar kalau pasar properti agak melambat,” ujarnya.
Pembeli Makin ‘Pintar’ dan Hati-Hati
Sekarang, calon pembeli nggak lagi asal ambil keputusan. Banyak yang mikir dua kali, bahkan tiga kali, sebelum ambil KPR.
Pengamat properti nasional, Panangian Simanungkalit, bilang kalau pola pikir masyarakat sudah berubah cukup drastis.
“Dulu orang beli rumah karena gengsi atau ikut tren. Sekarang lebih ke fungsi. Apakah bisa disewakan, bisa jadi pemasukan, itu yang jadi pertimbangan,” jelasnya.
Nggak heran kalau properti yang punya nilai “produktif” mulai dilirik. Misalnya rumah yang bisa dijadikan kos-kosan, kontrakan, atau punya ruang usaha kecil.
Mahal Melambat, Yang Terjangkau Tetap Jalan
Di lapangan, kondisi ini cukup terasa. Properti kelas menengah ke atas mulai melambat. Harga tinggi + cicilan berat bikin banyak orang memilih menunggu.
Sebaliknya, segmen yang lebih “membumi” justru masih bertahan. Rumah subsidi, kontrakan sederhana, sampai kos-kosan tetap punya pasar karena kebutuhan tempat tinggal nggak bisa ditunda.
Selain itu, kenaikan suku bunga juga bikin cicilan makin terasa berat. Ini yang bikin sebagian masyarakat akhirnya menahan diri untuk beli rumah dalam waktu dekat.
Pengembang Ikut Putar Otak
Nggak cuma pembeli, pengembang juga ikut menyesuaikan diri. Banyak yang mulai mengubah strategi:
- ukuran rumah diperkecil
- desain dibuat lebih fungsional
- skema pembayaran dibuat lebih ringan
Tujuannya satu: tetap bisa jualan di tengah kondisi yang lagi serba hati-hati.
Masih Ada Harapan, Tapi Harus Realistis
Meski terlihat melambat, bukan berarti sektor properti “mati”. Peluang tetap ada, tapi nggak bisa lagi pakai cara lama.
Sekarang, yang bertahan bukan yang paling besar, tapi yang paling cepat beradaptasi.
Properti tetap jadi pilihan investasi, tapi dengan pendekatan yang lebih realistis. Bukan sekadar beli dan berharap harga naik, tapi harus jelas fungsinya dan potensi hasilnya.
Di tengah tekanan rupiah dan ekonomi yang belum stabil, pasar properti sedang berubah arah. Dari yang dulu penuh gengsi, sekarang jadi lebih rasional.
Bagi sebagian orang, ini memang masa yang berat. Tapi bagi yang jeli melihat peluang, justru ini jadi momen untuk masuk dengan strategi yang lebih matang.
Satu hal yang pasti, di dunia properti hari ini: bukan soal gaya lagi, tapi soal bertahan dan menghasilkan. (*)