BISNIS DAILY, PONTIANAK - Turunnya daya beli masyarakat mulai terasa di sektor properti, terutama pasar rumah untuk kalangan menengah dan masyarakat berpenghasilan rendah. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat banyak orang memilih menunda membeli rumah, meski kebutuhan hunian terus meningkat.
Saat ini, pasar properti masih bergerak, tetapi lajunya tidak secepat beberapa tahun lalu. Banyak pengembang mulai merasakan penurunan minat beli, terutama untuk rumah komersial dengan harga di atas Rp300 juta hingga Rp1 miliar.
Penyebab utamanya bukan karena orang tidak ingin punya rumah, tetapi karena kemampuan finansial masyarakat semakin tertekan. Harga kebutuhan pokok naik, cicilan bertambah, biaya pendidikan meningkat, sementara pertumbuhan pendapatan tidak terlalu besar.
Akibatnya, rumah menjadi kebutuhan yang sering dikalahkan oleh kebutuhan harian.
Di sisi lain, suku bunga kredit rumah yang sempat tinggi juga membuat masyarakat lebih berhati-hati mengambil cicilan jangka panjang. Banyak calon pembeli akhirnya memilih menunggu kondisi ekonomi lebih stabil sebelum membeli rumah.
Namun menariknya, pasar rumah subsidi justru masih cukup bertahan. Program bantuan pemerintah seperti FLPP dan subsidi DP masih menjadi penopang utama sektor properti bawah.
Artinya, permintaan rumah sebenarnya tetap ada, terutama dari generasi muda dan keluarga baru. Masalahnya ada pada kemampuan membeli, bukan minat memiliki rumah.
Kondisi ini membuat pengembang mulai mengubah strategi. Banyak yang kini fokus membangun rumah kecil, cicilan ringan, hingga konsep hunian minimalis agar lebih terjangkau pasar.
Tidak sedikit pula pengembang yang mulai menawarkan promo agresif seperti DP rendah, cicilan bertahap, hingga bonus renovasi agar penjualan tetap bergerak.
Di kota besar, pasar apartemen dan rumah kelas premium memang masih memiliki pembeli, tetapi segmennya lebih terbatas. Yang paling terpukul justru kelas menengah, karena berada di posisi “tidak cukup miskin untuk dapat subsidi, tapi juga belum cukup kuat membeli rumah komersial.”
Fenomena ini membuat backlog perumahan di Indonesia masih tinggi. Banyak masyarakat sebenarnya sudah bekerja dan memiliki penghasilan, tetapi belum mampu membeli rumah layak huni.
Karena itu, sektor properti saat ini sangat bergantung pada stabilitas ekonomi, suku bunga, serta keberanian pemerintah menjaga daya beli masyarakat.
Jika daya beli terus melemah, pasar rumah kemungkinan masih akan bergerak lambat. Tetapi jika ekonomi membaik dan akses kredit dipermudah, sektor properti bisa kembali menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar di Indonesia. (*)