Bisnis Daily, PONTIANAK – Gubernur Bank Indonesia menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan momentum pertumbuhan ekonomi semata. Di tengah pemulihan global dan penguatan daya beli masyarakat, ia menyebut bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini justru berada pada kualitas pertumbuhan, khususnya di sektor riil.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya akan berdampak jangka panjang apabila ditopang transformasi menyeluruh pada sektor riil. Transformasi tersebut mencakup peningkatan produktivitas industri, efisiensi rantai pasok, digitalisasi usaha, serta penguatan ekosistem pembiayaan untuk UMKM.
Ia menekankan bahwa sektor riil adalah “tulang punggung” perekonomian nasional. Sektor inilah yang menyerap tenaga kerja terbesar dan menjadi motor utama distribusi barang dan jasa. “Jika sektor riil tertinggal, maka pertumbuhan yang tinggi tidak akan cukup berkelanjutan,” ujarnya dalam forum ekonomi yang digelar di Jakarta.
Transformasi sektor riil juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang, terutama dalam menghadapi risiko tekanan global seperti gejolak harga komoditas, ketidakpastian geopolitik, dan perlambatan negara mitra dagang.
Bank Indonesia mencatat bahwa langkah percepatan transformasi bisa ditempuh melalui beberapa strategi, seperti digitalisasi perdagangan, ekspansi pembiayaan hijau (green financing), integrasi usaha mikro dan kecil ke dalam rantai pasok industri, serta peningkatan adopsi teknologi di sektor pertanian dan manufaktur.
Di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap kokoh di level atas negara G20, Gubernur BI menegaskan bahwa menjaga stabilitas makro saja tidak cukup. Ekonomi harus ditopang produktivitas sektor riil yang terus berkembang agar mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya saing ekspor, dan memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.
“Transformasi sektor riil adalah kunci. Tanpa itu, pertumbuhan hanya menjadi angka. Dengan itu, pertumbuhan menjadi kesejahteraan,” tegasnya. (*)