Bisni Daily, PONTIANAK - Isu redenominasi Rupiah makin santer dibahas belakangan ini. Banyak yang bertanya-tanya, kalau nanti angka nol di Rupiah dihapus, apa sih untung ruginya buat masyarakat? Biar nggak bingung, yuk simak versi gampangnya.
Pertama, soal keuntungan. Redenominasi bikin angka Rupiah jadi lebih simpel. Bayangin aja, harga Rp10.000 nanti ditulis cuma jadi Rp10. Transaksi di kasir jadi lebih cepat, laporan keuangan UMKM kelihatan lebih rapi, dan sistem digital kayak QRIS atau e-wallet makin enak dipakai. Plus, nilai Rupiah juga terlihat lebih “gagah” di mata internasional karena nggak kebanyakan nol.
Selain itu, redenominasi juga bisa mengurangi risiko salah hitung. Nggak ada lagi drama salah nambah nol yang bikin bon belanja atau laporan keuangan berantakan. Pokoknya semuanya jadi lebih efisien dan modern.
Tapi namanya juga kebijakan besar, pasti ada kekurangannya. Tantangan pertama ada di sosialisasi. Masyarakat harus paham betul perbedaan format lama dan baru. Kalau kurang informasi, bisa bikin bingung saat transaksi. Ada juga potensi oknum nakal yang memanfaatkan masa transisi buat naikin harga diam-diam.
Dari sisi teknis, perusahaan dan bank juga harus menyesuaikan sistem, mulai dari kasir, ATM, software akuntansi, sampai aplikasi pembayaran. Ini butuh biaya dan waktu. Dan di awal-awal, risiko salah tafsir angka masih mungkin terjadi.
Meski begitu, para ekonom menilai redenominasi tetap punya manfaat besar dalam jangka panjang, terutama buat modernisasi ekonomi Indonesia. Nilai uang tetap sama, yang berubah cuma tampilannya—lebih simpel, modern, dan nggak kebanyakan nol.
Jadi, kalau redenominasi beneran jalan, masyarakat tinggal siap-siap adaptasi sambil menunggu prosesnya berjalan mulus. Yang penting, harga nggak berubah, nilai uang tetap sama, dan dompet tetap aman. (*)