BISNIS DAILY, PONTIANAK – Jagat media sosial di Kalimantan Barat tengah diramaikan dengan viralnya video kondisi jalan rusak parah di wilayah pedalaman. Video tersebut memperlihatkan keluhan warga, bahkan disampaikan langsung oleh anak-anak, yang kemudian memicu perhatian luas publik.
Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang. Dalam video yang beredar, dua bocah berdiri di jalan berlumpur dan licin sambil menyampaikan kritik terkait kondisi infrastruktur yang dinilai sangat memprihatinkan.
Tak butuh waktu lama, video tersebut viral dan memicu berbagai reaksi, mulai dari simpati masyarakat hingga perdebatan soal etika pelibatan anak dalam kritik terhadap pemerintah.
Jalan Rusak Jadi Sorotan Utama
Kondisi jalan yang dikeluhkan bukan tanpa alasan. Infrastruktur yang rusak disebut berdampak langsung pada aktivitas warga, mulai dari akses pendidikan, distribusi barang, hingga mobilitas sehari-hari.
Bahkan, data lain menyebutkan bahwa kerusakan jalan di Kalbar masih cukup tinggi. Diperkirakan ratusan kilometer jalan dalam kondisi rusak, termasuk kategori rusak berat yang belum tertangani optimal.
Gubernur dan Wagub Ikut Bersuara
Menanggapi viralnya video tersebut, Gubernur Kalbar Ria Norsan menegaskan bahwa dirinya tidak anti kritik. Namun ia menyayangkan penggunaan anak-anak dalam menyampaikan kritik tersebut, bahkan menduga ada pihak yang “mengarahkan” isi pesan.
Di sisi lain, pemerintah provinsi juga menekankan bahwa jalan yang dipersoalkan merupakan jalan kabupaten, sehingga menjadi kewenangan pemerintah daerah setempat, bukan provinsi.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kalbar juga mengaku telah melihat langsung video tersebut dan menyoroti kondisi jalan yang memang memprihatinkan di wilayah tersebut.
Media Sosial Jadi “Pengeras Suara”
Kasus ini kembali menunjukkan kuatnya peran media sosial dalam menyuarakan persoalan daerah. Video sederhana dari pedalaman bisa langsung viral dan mendapat respon pejabat dalam waktu singkat.
Namun di balik itu, muncul dua sisi:
- Aspirasi masyarakat cepat terdengar
- Tapi juga berpotensi menimbulkan polemik dan salah sasaran kritik
Cermin Masalah Lama
Viralnya kasus ini sebenarnya membuka kembali persoalan klasik di Kalbar: infrastruktur jalan, terutama di wilayah pedalaman, yang masih jauh dari kata layak.
Perdebatan soal siapa yang bertanggung jawab—provinsi atau kabupaten—justru mempertegas bahwa masalah ini bukan sekadar viral sesaat, tetapi persoalan sistemik yang belum tuntas.
Kasus jalan rusak yang viral di Kalbar bukan hanya soal video bocah yang menyentuh hati publik. Ini adalah gambaran nyata kondisi infrastruktur yang masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Di tengah sorotan publik, masyarakat kini menunggu satu hal yang paling penting: bukan lagi klarifikasi, tapi aksi nyata perbaikan jalan. (*)