Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Jangan Beli Emas Karena FOMO: Pakar dan OJK Ingatkan Investasi Harus Logis

05 February 2026

Bisnis Daily, PONTIANAK - Fenomena lonjakan minat masyarakat membeli emas terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Harga emas di pasar domestik dan global sempat melonjak tinggi, memicu antrean panjang di toko emas serta peningkatan pembelian di platform digital.

Namun, para pakar ekonomi dan otoritas keuangan memberikan peringatan penting bagi calon investor: jangan membeli emas hanya karena ikut tren atau takut ketinggalan (FOMO).

Pakar ekonomi dari Universitas Mulawarman, Felisitas Defung, mengatakan bahwa banyak orang tergoda membeli emas saat harga sedang tinggi setelah berita kenaikan harga tersebar di media sosial dan berita keuangan, tetapi investasi yang didasari oleh FOMO bisa berujung pada keputusan yang kurang matang. Menurutnya, emas adalah instrumen investasi jangka panjang, bukan alat untuk mengejar keuntungan sesaat.

Peringatan serupa juga disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Badan pengawas itu menekankan bahwa keputusan berinvestasi, termasuk membeli emas, sebaiknya dilakukan secara rasional dan terencana, sesuai dengan tujuan keuangan dan kemampuan dana masing-masing individu. OJK mengingatkan bahwa mengikuti euforia pasar tanpa perhitungan dapat menimbulkan risiko kerugian, karena harga emas dalam jangka pendek bisa sangat fluktuatif.

OJK mencatat beberapa bahaya dari perilaku panic buying atau FOMO, antara lain harga yang menjadi sulit diprediksi, risiko kerugian jika dijual terlalu cepat, hingga potensi terjebak pada emas ilegal atau penipuan akibat tergesa-gesa mengambil keputusan.

Analis pasar juga menggarisbawahi bahwa emas memiliki karakter investasi yang berbeda dari instrumen lain seperti saham atau obligasi. Harga emas bisa naik signifikan karena ketidakpastian ekonomi, tetapi juga berpotensi turun tajam apabila sentimen pasar berubah — seperti yang terlihat dalam volatilitas beberapa sesi perdagangan global baru-baru ini.

Untuk menghindari risiko FOMO, para pakar menyarankan beberapa strategi bijak:

  • Menetapkan tujuan investasi jelas, misalnya untuk dana pensiun, pendidikan anak, atau tabungan jangka panjang.

  • Membeli secara bertahap (dollar cost averaging) agar tidak menebak waktu pasar.

  • Diversifikasi portofolio dengan instrumen lain sehingga tidak tergantung pada satu aset saja.

Dengan pendekatan yang lebih logis dan disiplin, investasi emas dapat menjadi bagian dari strategi keuangan yang sehat — tetapi bukan karena sekadar ikut arus pertumbuhan harga. (*)

Prev Article
Tunggu Dulu! Apakah Sekarang Saatnya Investasi Emas?

Related to this topic: