BISNIS DAILY, PONTIANAK - Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat seiring aktivitas pelayaran dan dinamika geopolitik yang kian ramai. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar global, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global. Selain minyak mentah, jalur ini juga menjadi lintasan utama pengiriman gas alam cair (LNG) dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara tujuan.
Meningkatnya tensi di kawasan tersebut langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak dunia berpotensi mengalami lonjakan seiring kekhawatiran terganggunya pasokan. Kenaikan harga energi ini berisiko memicu efek berantai, mulai dari meningkatnya biaya transportasi hingga naiknya harga kebutuhan pokok.
Dampak lanjutan juga dapat dirasakan pada stabilitas ekonomi global. Ketidakpastian di jalur vital tersebut mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar Amerika Serikat, yang berpotensi menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi perhatian serius. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, gejolak di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan beban subsidi energi serta menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, kenaikan harga energi dapat berdampak langsung pada inflasi domestik.
Di sektor perdagangan, gangguan pada jalur pelayaran juga berisiko meningkatkan biaya logistik global. Kenaikan biaya asuransi kapal serta potensi keterlambatan distribusi barang dapat memperparah tekanan terhadap rantai pasok internasional.
Meski belum terjadi penutupan jalur, pelaku pasar cenderung merespons cepat setiap eskalasi yang terjadi. Sentimen negatif ini bahkan dapat memicu kenaikan harga sebelum gangguan nyata terjadi di lapangan.
Pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, diharapkan meningkatkan kewaspadaan serta menyiapkan langkah antisipatif guna meredam dampak yang mungkin timbul, baik dari sisi energi maupun stabilitas ekonomi.
Jika ketegangan terus meningkat, bukan tidak mungkin Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial yang menentukan arah pergerakan ekonomi global dalam waktu dekat. (*)