BISNIS DAILY, PONTIANAK - Dinamika ekonomi Indonesia dalam sepekan terakhir menunjukkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, momentum Lebaran masih memberikan dorongan kuat terhadap konsumsi dan likuiditas. Namun di sisi lain, tanda-tanda perlambatan ekonomi mulai muncul pasca periode puncak belanja masyarakat.
Lonjakan aktivitas ekonomi terlihat dari meningkatnya peredaran uang selama Lebaran 2026. Data menunjukkan likuiditas atau uang kartal yang beredar mencapai Rp1.370 triliun, naik sekitar 10,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan kuatnya daya beli masyarakat serta tingginya aktivitas konsumsi rumah tangga selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Tak hanya itu, belanja masyarakat selama periode hari besar keagamaan seperti Lebaran disebut menyumbang hingga 30–40 persen dari total penjualan ritel tahunan. Kondisi ini menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan tetap kuat di kisaran 5,5 persen.
Namun, memasuki fase pasca-Lebaran, para ekonom mulai mengingatkan adanya normalisasi ekonomi. Daya beli masyarakat diprediksi akan menurun setelah periode konsumsi tinggi, seiring berkurangnya uang tunai yang sebelumnya terkuras untuk kebutuhan mudik dan belanja Lebaran.
Selain itu, tekanan eksternal juga mulai membayangi. Pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan harga energi dan pangan global berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 ke kisaran 4,7–4,9 persen.
Di sisi lain, kabar positif datang dari stabilitas harga. Setelah sempat mengalami kenaikan menjelang Lebaran, harga sejumlah bahan pangan kini mulai terkendali dan cenderung stabil di pasar. Kondisi ini menjadi sinyal baik bagi daya tahan ekonomi domestik dalam jangka pendek.
Para ekonom menilai, pemerintah perlu mengantisipasi fase pasca-Lebaran ini dengan kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi tetap bergerak. Pasalnya, pertumbuhan kuat pada awal tahun berpotensi diikuti perlambatan jika tidak diimbangi stimulus lanjutan.
Dalam sepekan terakhir, ekonomi Indonesia masih ditopang efek Lebaran yang kuat. Namun, memasuki periode setelahnya, tantangan mulai terlihat—dari turunnya konsumsi hingga tekanan global—yang akan menjadi penentu arah ekonomi ke depan. (*)