BISNIS DAILY, PONTIANAK - Tren investasi aset digital seperti kripto dan tokenisasi aset makin diminati generasi muda. Namun di balik peluang cuan besar, risiko kerugian dan penipuan digital juga ikut mengintai.
Otoritas Jasa Keuangan pun mengajak generasi muda untuk lebih paham literasi keuangan digital agar tidak mudah terjebak investasi berisiko tinggi tanpa pemahaman yang cukup.
Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso dalam kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) di Universitas Negeri Sebelas Maret, Senin (11/5).
Menurut Adi, perkembangan teknologi digital seperti blockchain dan kriptografi kini melahirkan banyak inovasi baru, termasuk tokenisasi aset yang membuat investasi semakin mudah dijangkau masyarakat.
“Kami ingin literasi keuangan digital menjadi fondasi penting di tengah pesatnya transformasi digital dan meningkatnya risiko keuangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tokenisasi aset membuka peluang bagi masyarakat, termasuk anak muda dan pelaku UMKM, untuk ikut berpartisipasi dalam investasi formal dengan modal yang lebih terjangkau.
Meski begitu, OJK menegaskan pemahaman soal risiko tetap menjadi hal utama. Sebab perkembangan industri keuangan digital tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam memahami risiko dan mengambil keputusan secara bijak.
Saat ini, perkembangan aset kripto di Indonesia memang terbilang cukup pesat. Hingga Februari 2026, jumlah akun pengguna aset kripto disebut telah menembus lebih dari 21 juta akun.
Sementara nilai transaksi perdagangan kripto sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar Rp482,23 triliun.
Jumlah aset kripto yang diperdagangkan juga melonjak drastis, dari sekitar 501 aset pada 2023 menjadi lebih dari 1.464 aset pada 2026.
Selain itu, industri ini juga ikut menyumbang penerimaan pajak negara hingga sekitar Rp796,73 miliar pada tahun 2025.
OJK mencatat saat ini sudah ada 25 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang legal dan berizin di Indonesia, lengkap dengan dukungan ekosistem bursa, kustodian, hingga layanan pembayaran.
Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret, Hartono menilai literasi keuangan digital menjadi kebutuhan penting di tengah maraknya investasi digital saat ini.
Menurutnya, masih banyak generasi muda yang terjebak investasi ilegal maupun perdagangan aset berisiko tinggi karena keputusan investasi dilakukan secara emosional dan minim literasi.
“Anak muda harus melek teknologi, tapi juga harus punya pemahaman dan tanggung jawab dalam mengelola keuangan digital,” katanya.
Kegiatan DFL tersebut diikuti sekitar 500 peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, pelaku industri, hingga masyarakat umum. Sejumlah praktisi dan akademisi turut hadir membahas perkembangan kripto, tokenisasi aset, hingga pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat di era digital. (*)