Bisnis Daily, JAKARTA - Mata uang rupiah menembus Rp17.503 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi. Rupiah melemah 89 poin terhadap dolar AS.
Meski melemah, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan APBN 2026 masih aman.
Menurutnya, pemerintah sejak awal telah mengantisipasi pelemahan rupiah saat menyusun APBN 2026, karena menggunakan simulasi kurs di atas level tersebut. Awalnya, asumsi kurs resmi dalam APBN dipatok Rp16.500 per dolar AS.
Purbaya juga menyebutkan, tekanan rupiah saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi fiskal pemerintah, termasuk beban utang negara.
Namun, kata dia, pemerintah akan tetap membantu Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama melalui intervensi di pasar obligasi domestik. Termasuk masih memiliki likuiditas yang cukup besar untuk menjaga pasar keuangan tetap stabil.
"Kita akan kendalikan nilai tukar, kita akan coba membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang menganggur, kita intervention bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi," ungkap Purbaya.
Dia beralasan, kenaikan yield obligasi yang terlalu tinggi berisiko memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik karena investor mengalami kerugian atau capital loss.
"Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asing enggak keluar, atau malah masuk kalau yield-nya membaik, sehingga rupiah akan menguat. Kita akan masuk mulai besok," pungkas Purbaya Yudhi Sadewa.