Bisnis Daily, PONTIANAK - Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, sektor properti pada 2026 masih menghadapi berbagai tantangan. Daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya membuat pelaku usaha dan investor lebih berhati-hati dalam menanamkan modal.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: bisnis properti apa yang paling aman di tahun ini?
Pengamat menilai, segmen properti yang paling bertahan bukanlah yang mewah, melainkan yang paling dibutuhkan masyarakat.
Rumah Subsidi Masih Jadi Andalan
Segmen rumah subsidi dan hunian terjangkau dinilai tetap menjadi tulang punggung pasar properti. Permintaan terhadap rumah tipe kecil dan menengah masih tinggi, terutama dari pasangan muda dan pembeli rumah pertama.
Dukungan pemerintah melalui program perumahan rakyat, KPR bersubsidi, serta insentif pajak membuat segmen ini relatif stabil di tengah perlambatan.
“Hunian terjangkau masih menjadi pilihan utama masyarakat karena sesuai dengan kemampuan finansial,” ujar salah satu pelaku industri properti.
Bisnis Sewa Tetap Menjanjikan
Selain rumah subsidi, bisnis sewa seperti kontrakan dan kos-kosan juga dinilai aman. Kebutuhan hunian sementara bagi mahasiswa, pekerja, dan perantau terus ada setiap tahun.
Properti sewa yang berada di dekat kampus, rumah sakit, kawasan industri, dan pusat kota masih memiliki tingkat hunian yang tinggi.
Pendapatan dari sektor ini memang tidak instan, namun dinilai konsisten dalam jangka panjang.
Ruko Kecil dan Gudang Mulai Dilirik
Perubahan pola usaha masyarakat juga memengaruhi tren properti. Ruko berukuran kecil dan kios UMKM masih diminati, terutama untuk mendukung bisnis kuliner dan toko online.
Di sisi lain, properti gudang dan logistik mulai dilirik seiring berkembangnya e-commerce. Kebutuhan tempat penyimpanan barang di kawasan pinggiran kota dan jalur distribusi terus meningkat.
Hunian Minimalis Makin Diminati
Tren hunian minimalis dan hemat energi juga semakin menguat di 2026. Rumah dengan desain sederhana, pencahayaan alami, dan konsumsi listrik rendah dinilai lebih cepat terserap pasar, terutama oleh generasi muda.
Konsep ini dianggap sesuai dengan gaya hidup praktis dan kesadaran lingkungan yang terus berkembang.
Segmen Mewah Masih Perlu Waspada
Sementara itu, beberapa segmen properti masih menghadapi tekanan, seperti apartemen kelas menengah ke atas, rumah mewah di lokasi kurang strategis, serta hotel kecil di daerah minim wisata.
Segmen ini membutuhkan modal besar dan waktu pengembalian investasi yang lebih lama.
Fokus pada Kebutuhan Pasar
Pengamat menilai, kunci bertahan di bisnis properti tahun ini adalah memahami kebutuhan pasar secara realistis.
“Bukan soal seberapa mewah bangunannya, tapi seberapa besar kebutuhannya di masyarakat,” kata seorang analis properti.
Dengan strategi yang tepat, sektor properti masih memiliki peluang untuk tumbuh, meski tidak secepat beberapa tahun lalu. (*)