Bisnis Daily, PONTIANAK - Tahun 2026 diprediksi jadi tahun yang cukup menantang buat dunia properti. Bukan berarti suram total, tapi jelas nggak semulus ekspektasi banyak orang.
Pasar perumahan masih jalan pelan. Rumah tapak, apartemen, sampai hotel belum sepenuhnya pulih. Daya beli masyarakat juga masih mikir dua kali sebelum ambil KPR. Maklum, kondisi ekonomi global belum sepenuhnya stabil.
Harga Naik, Dompet Masih Mikir
Salah satu tantangan utama adalah soal keterjangkauan harga rumah. Harga properti nggak turun signifikan, sementara pendapatan masyarakat naiknya tipis-tipis. Alhasil, banyak calon pembeli pilih nunda beli rumah atau cari yang lebih kecil dan terjangkau.
Pengembang Juga Ngerem
Di sisi lain, pengembang properti juga nggak bisa ngebut. Biaya bangun makin mahal, mulai dari bahan bangunan sampai upah tenaga kerja. Akibatnya, developer lebih hati-hati buka proyek baru dan fokus ke segmen yang jelas peminatnya.
Rumah Subsidi Jadi Primadona
Di tengah kondisi ini, rumah subsidi justru jadi bintang. Segmen ini masih paling dicari, apalagi buat generasi muda dan pembeli rumah pertama. Dukungan pemerintah lewat insentif pajak dan program perumahan jadi penyelamat pasar.
Properti Masuk Era Digital
Tantangan lain datang dari perubahan perilaku konsumen. Sekarang, orang cari rumah mulai dari HP, bukan keliling lokasi. Pengembang dan agen properti yang nggak ikut digitalisasi bisa ketinggalan jauh. Singkatnya, 2026 bukan tahunnya properti ngebut, tapi juga bukan tahun mati. Pasar masih jalan, asal realistis dan adaptif. (*)